Purbaya Sindir Sikap Lemah PBB soal Trump Tangkap Maduro
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyindir sikap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dinilai lemah atas penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS).
Ia menyebut hukum internasional aneh saat ini. Purbaya mengaku heran ada negara yang bisa menyerang negara berdaulat lainnya.
"Hukum dunia agak aneh sekarang. Jadi kalau kita lihat negara bisa nyerang negara lain yang berdaulat, dan seperti bisa get away dari pengawasan PBB. Jadi PBB-nya amat lemah sekarang," ujar Purbaya di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (5/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada saat yang sama, Purbaya juga menyebut peristiwa itu belum berpengaruh negatif terhadap perekonomian Indonesia.
Ia mencontohkan salah satunya indeks harga saham gabungan (IHSG) yang malah menunjukkan tren positif pada hari ini.
Selain itu, Purbaya juga berpendapat peristiwa ini justru akan membawa dampak positif terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
"Agak aneh sebenarnya, tapi itu yang dilihat pasar," ucapnya.
Presiden AS Donald Trump menangkap Maduro dan istrinya melalui operasi militer AS di Kota Caracas, Venezuela pada Sabtu (3/1) lalu.
Tak lama usai mengumumkan penangkapan Maduro, Trump bahkan blak-blakan bahwa AS akan menguasai minyak Venezuela.
Trump mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak dan gas akan menggelontorkan investasi besar-besaran untuk mengelola minyak dan gas Venezuela.
Chevron merupakan satu-satunya perusahaan minyak AS yang beroperasi di Venezuela. Perusahaan itu mengekspor sekitar 140 ribu barel minyak per hari dari negara Amerika Latin itu pada kuartal empat di 2025.
Venezuela sendiri merupakan negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia.
Berdasarkan OPEC Annual Statistical Bulletin 2025, cadangan minyak terbukti Venezuela mencapai 303,22 miliar barel atau hampir seperlima dari cadangan minyak dunia, 1.566,86 miliar barel.
(mnf/sfr)