Canda Amran Ditugasi Prabowo Swasembada Pangan: Vertigo-Asam Lambung
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengaku sempat mengidap vertigo hingga asam lambung menyusul permintaan percepatan swasembada pangan dari Presiden RI Prabowo Subianto.
"Tadi bapak janji 4 tahun. Kemudian berubah 3 taun, kemudian 1 tahun. Di saat jadi 1 tahun alhamdulillah kami vertigo, kami asam lambung. Hari ini sudah mulai sembuh, recovery kembali," canda Amran saat berpidato dalam acara Panen Raya dan Pemgumuman Swasembada Pangan, Karawang, Jabar, Rabu (7/1) hari ini.
Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini menyebut pencapaian swasembada pangan Indonesia bukanlah kerja kementeriannya semata, melainkan kerja sama seluruh kementerian/lembaga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanpa bantuan sejumlah pihak, ia mengaku takkan mampu mencapai capaian ini sendirian.
Dalam kesempatan ini, Amran juga menerima tanda kehormatan Bintang Jasa Utama dari Presiden Prabowo Subianto.
Tanda kehormatan itu diberikan atas jasanya dalam pencapaian target swasembada pangan 2025.
Penghargaan tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 1 dan 2 TK Tahun 2026 tentang Penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Jasa dan Satyalencana Wira Karya.
Sementara itu, Prabowo mengaku bangga atas kinerja seluruh jajarannya sekaligus meminta mereka untuk tetap bekerja sepenuh hati mengabdi kepada rakyat Indonesia.
"Dan saya percaya abis ini kita tidak akan bisa diberhentikan," ucap dia.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebelumnya memaparkan tiga indikator Indonesia berhasil swasembada beras.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan ketiga indikator tersebut adalah tidak impor beras lagi, produksi melebih konsumsi, dan stok Bulog relatif tinggi.
"Pertama, kita tahun ini tidak melakukan importasi beras lagi. Kedua, produksi kita jauh melebihi daripada konsumsinya. Dan yang ketiga, stok Bulog pun juga relatif tinggi, lebih dari 3 juta ton. Artinya tiga sisi ini yang menunjukkan kita bisa menyatakan bahwa posisi kita swasembada," ungkap Ketut dalam keterangan resmi yang dikutip dari suatu telewicara, Jakarta, Senin (5/1).
Pada 2025, Indonesia surplus beras sekitar 3 juta ton lantaran produksi beras 34,71 juta ton melampaui konsumsi beras 31,19 juta ton.
"Kita punya surplus 3 juta ton. Itu saja sudah menandakan kita sudah swasembada," jelasnya.
Surplus beras tersebut menjadikan stok beras di awal tahun 2026 bisa mencapai 12,529 juta ton. Angka tersebut sudah termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Perum Bulog yang sebesar 3,248 juta ton.
(mnf/sfr)