BGN Minta SPPG Kurangi Telur di MBG Demi Cegah Harga Naik Jelang Puasa

CNN Indonesia
Jumat, 09 Jan 2026 05:30 WIB
BGN meminta SPPG melakukan variasi menu MBG dengan mengurangi penggunaan telur sementara waktu. Hal itu untuk mencegah kenaikan harga jelang Ramadan.
BGN meminta SPPG melakukan variasi menu MBG dengan mengurangi penggunaan telur sementara waktu. Hal itu untuk mencegah kenaikan harga jelang Ramadan. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Gizi Nasional (BGN) meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) melakukan variasi menu dengan mengurangi penggunaan telur sementara waktu.

Langkah ini diarahkan untuk menahan permintaan telur yang berpotensi mendorong kenaikan harga menjelang bulan suci Ramadan.

"Harus ganti dengan ikan dulu, sementara harus ngalah yang telurnya," ujar Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang di SMKN 1 Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (8/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sudah ada (imbauan), nanti akan ada imbauan lagi kayak waktu itu Nataru, kita bilang jangan banyak makai telur supaya yang natalan bisa natalan, enggak kena harga tinggi. Berhasil loh, karena kita pakai daging sapi, jadi kita diversifikasi ke pangan lain," jelasnya.

Ia menjelaskan diversifikasi menu bukan hal baru dalam pelaksanaan MBG. Pada periode tertentu sebelumnya, dapur MBG juga diminta mengurangi penggunaan telur dan menggantinya dengan sumber protein lain seperti daging sapi.

Pendekatan serupa kembali dipertimbangkan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga pangan di pasar.

Selain pengaturan menu, BGN juga menyiapkan dukungan dari sisi pasokan protein hewani. Nanik menyebut pembangunan fasilitas pendukung masih berjalan.

Adapun dukungan pasokan protein hewani untuk program MBG disiapkan melalui pembangunan peternakan sapi terintegrasi.

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan mengalokasikan dana sekitar Rp2,4 triliun untuk proyek tersebut.

Investasi itu mencakup seluruh rantai produksi dari hulu hingga hilir, mulai dari peternakan sapi, pabrik pakan, hingga pengelolaan rumput. Proyek ini dirancang dalam satu kawasan terintegrasi dengan kapasitas sekitar 67 ribu ekor sapi, agar pasokan daging dan susu untuk mendukung MBG dapat berjalan lebih stabil.

Ia juga menyampaikan BGN tengah menyiapkan dapur berbasis sapi.

"Kita lagi buat dapur sapi, jadi nanti kalo lebaran sapinya naik (harganya), kita punya sapi sendiri," katanya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga telur ayam ras di banyak daerah seiring bergulirnya program MBG.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut meningkatnya kebutuhan telur sebagai salah satu menu MBG turut mendorong permintaan.

Pada pekan kedua November 2025, contohnya, harga telur ayam ras secara rata-rata nasional naik 0,32 persen dibandingkan Oktober menjadi Rp31.646 per kilogram, atau sudah berada di atas harga acuan penjualan (HAP) Rp30 ribu per kilogram.

BPS juga mencatat kenaikan harga terjadi di 157 kabupaten/kota, mencerminkan dampak peningkatan permintaan telur untuk mendukung pelaksanaan MBG di berbagai wilayah.

"Untuk telur ayam ras ini menarik karena memang juga yang memberikan kenaikan harga telur ayam ras adalah meningkatnya permintaan terhadap kebutuhan komoditas telur ayam ras sebagai salah satu komponen lauk pauk pada menu MBG," ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2025, Senin (17/11/2025).

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr)