Amran: Penyerapan Gabah Semua Kualitas Untungkan Petani hingga Rp132 T

CNN Indonesia
Senin, 12 Jan 2026 12:23 WIB
Amran menyatakan kebijakan penyerapan gabah semua kualitas dampak ekonomi yang lebih besar bagi petani dan masyarakat hingga Rp132 triliun.
Amran menyatakan kebijakan penyerapan gabah semua kualitas dampak ekonomi yang lebih besar bagi petani dan masyarakat hingga Rp132 triliun. (Foto: Antara Foto/Andri Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan kebijakan penyerapan gabah semua kualitas (any quality) memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi petani dan masyarakat dibanding potensi kerugian yang muncul.

Berdasarkan perhitungannya, manfaat kebijakan tersebut mencapai Rp132 triliun.

Menurut Amran, kebijakan penyerapan gabah semua kualitas membuat pemerintah harus menerima selisih harga pada sebagian gabah yang dibeli. Dari perhitungan yang dilakukan, selisih tersebut dinilai relatif kecil dibanding total produksi nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan any quality, kita hitung-hitungan tadi, ini ada 31 juta ton yang kita jual Rp10 ribu. Berarti kita kehilangan katakanlah Rp1.000 atau Rp2.000. Itu nilainya Rp77 miliar," kata Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Senin (12/1).

Menurut Amran, nilai tersebut jauh lebih kecil dibanding keuntungan yang diterima petani akibat kenaikan harga dan peningkatan produksi. Ia menyebut kebijakan ini mendorong petani tetap menanam karena gabah terserap tanpa melihat kualitas.

"Tapi, untungnya rakyat, petani, karena kenaikan harga, Rp132 triliun. Jagung saja dengan padi. Itu belum yang lain," ujarnya.

Amran menjelaskan keuntungan tersebut berasal dari kenaikan harga di tingkat petani yang dikalikan dengan total produksi nasional. Dengan produksi setara beras sekitar 34 juta ton atau setara gabah sekitar 65 juta ton, kenaikan harga Rp1.000 per kilogram menghasilkan nilai ekonomi yang besar.

Selain itu, semangat tanam petani turut meningkatkan produksi sekitar 4 juta ton yang ikut menambah nilai manfaat secara keseluruhan.

Kebijakan penyerapan semua kualitas juga dinilai menjaga keberlanjutan usaha tani. Tanpa skema tersebut, petani berisiko menanggung kerugian akibat gabah tidak terserap, yang berdampak pada kemampuan membayar kewajiban kredit dan kelanjutan musim tanam berikutnya.

"Kalau tidak any quality, begitu petani gabahnya rusak macam-macam, dia bangkrut, tidak tanam lagi karena harus urus kredit dan KUR-nya," kata Amran.

Ia menambahkan isu kerusakan gabah yang kerap disorot jumlahnya sangat kecil dibanding total produksi nasional, sehingga tidak signifikan terhadap keseluruhan kebijakan.

Dalam kesempatan sama, Amran menyampaikan target penyerapan gabah dan beras pada 2026 sebesar 4 juta ton melalui kerja sama Kementan, Perum Bulog, dan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Target tersebut dinilai realistis karena produksi nasional berada di kisaran 34 juta ton setara beras.

"Produksi kita 34 juta ton. 4 juta ton itu sekitar 10-11 persen, kecil. Masih sementara HPP (Harga Pembelian Pemerintah) gabah sekarang," ujarnya.

Amran juga memastikan harga penyerapan gabah tetap Rp6.500 per kilogram dengan sistem penyerapan dilakukan secara kombinasi digital dan non-digital untuk menghindari hambatan teknis di lapangan.

Bulog menargetkan penyerapan 4 juta ton setara beras serta satu juta ton jagung pada 2026 sebagai bagian dari penguatan cadangan pangan pemerintah. Target tersebut mengacu pada hasil rapat koordinasi terbatas Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada akhir Desember 2025.

Hingga 31 Desember 2025, Bulog telah menyerap 3,1 juta ton gabah setara beras serta 101,96 ribu ton jagung. Pada awal 2026, stok cadangan beras pemerintah (CBP) tercatat 3,24 juta ton, sementara stok komersial sekitar 133 ribu ton.

Pemerintah juga menetapkan peningkatan cadangan pangan pemerintah (CPP) beras dari 3 juta ton menjadi 4 juta ton pada 2026.

[Gambas:Video CNN]

(del/pta)