Bulog Targetkan Serap 4 Juta Ton Gabah, Harga Tetap Rp6.500

CNN Indonesia
Senin, 12 Jan 2026 12:56 WIB
Perum Bulog menargetkan penyerapan 4 juta ton gabah setara beras pada 2026 dengan harga pembelian Rp6.500 per kilogram di level petani.
Perum Bulog menargetkan penyerapan 4 juta ton gabah setara beras pada 2026 dengan harga pembelian Rp6.500 per kilogram di level petani. (Foto: ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perum Bulog menargetkan penyerapan 4 juta ton gabah setara beras pada 2026 dengan harga pembelian Rp6.500 per kilogram di level petani.

Target tersebut dipastikan berlaku untuk semua kualitas gabah atau gabah any quality dan disusun melalui koordinasi antara Bulog, Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan Kementerian Pertanian (Kementan).

Mentan Andi Amran Sulaiman mengatakan target penyerapan tersebut dibahas dalam rapat lintas lembaga dan disiapkan sebagai bagian dari penguatan cadangan pangan nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hari ini kita rapat dengan Bulog, Bapanas, Kementerian Pertanian. Kita target serap gabah beras tahun 2026 itu 4 juta ton. Itu target Bulog. Kita kolaborasi. Kita kerja sama," kata Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Senin (12/1).

Target penyerapan tersebut disusun seiring dengan proyeksi produksi yang meningkat. Amran menyebut luas tanam pada periode Oktober hingga Desember 2025 bertambah sekitar 500 ribu hektare dibandingkan tahun lalu. Dengan kondisi tersebut, produksi gabah pada tahun berjalan diperkirakan lebih tinggi, selama tidak terjadi gangguan besar seperti bencana.

Terkait harga pembelian, Amran memastikan tidak ada perubahan. Harga penyerapan gabah tetap berada di level Rp6.500 per kilogram.

"Singkat saja, iya. Masih (Rp6.500)," ujarnya.

Ia juga menyampaikan sistem penyerapan akan dilakukan secara kombinasi digital dan non-digital. Skema ini dipilih untuk menghindari kendala teknis di lapangan agar proses serapan berjalan lancar dan tidak terhambat.

Selain itu, Amran menyebut target penyerapan 4 juta ton tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan total produksi nasional yang berada di kisaran 34 juta ton setara beras, atau sekitar 10-11 persen dari total produksi. Dengan porsi tersebut, tidak ada rencana penyesuaian harga pembelian pemerintah (HPP) gabah.

Kebijakan penyerapan gabah semua kualitas juga tetap diterapkan. Menurut Amran, kebijakan ini memberi kepastian kepada petani bahwa hasil panen tetap terserap, sekaligus menjaga keberlanjutan usaha tani.

"Dengan any quality, kita hitung-hitungan tadi, ini ada 31 juta ton yang kita jual Rp10 ribu. Berarti kita kehilangan katakanlah Rp1.000 atau Rp2.000. Itu nilainya Rp77 miliar," kata Amran.

Meski terdapat selisih nilai tersebut, Amran menyebut manfaat ekonomi yang diterima petani jauh lebih besar karena kenaikan harga dan peningkatan produksi.

"Tapi, untungnya rakyat, petani, karena kenaikan harga, (keuntungannya) Rp132 triliun. Jagung saja dengan padi. Itu belum yang lain," ujarnya.

Amran menambahkan tanpa kebijakan penyerapan semua kualitas, petani berisiko mengalami kerugian ketika gabah tidak terserap akibat kualitas yang berpotensi membuat mereka berhenti menanam karena beban kewajiban kredit. Ia juga menyebut porsi gabah rusak yang sering dipersoalkan jumlahnya sangat kecil dibandingkan total produksi nasional.

Perum Bulog menargetkan penyerapan 4 juta ton setara beras serta 1 juta ton jagung pada 2026 sebagai bagian dari penguatan cadangan pangan pemerintah.

Target tersebut mengacu pada hasil rapat koordinasi terbatas penetapan cadangan pangan pemerintah (CPP) di Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada akhir Desember 2025.

Hingga 31 Desember 2025, Bulog telah menyerap 3,1 juta ton gabah setara beras serta 101,96 ribu ton jagung. Pada awal 2026, stok cadangan beras pemerintah Bulog tercatat 3,24 juta ton, ditambah stok komersial sekitar 133 ribu ton. Rakortas Kemenko Pangan menetapkan CPP beras naik dari 3 juta ton menjadi 4 juta ton pada 2026.

[Gambas:Video CNN]

(del/pta)