Luhut Buka-bukaan soal Kepemilikan Saham di Perusahaan RI
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan buka-bukaan soal kepemilikan saham di perusahaan Tanah Air.
Hal itu disampaikan Luhut dalam unggahan akun Instagram resmi @luhut.pandjaitan, Selasa (13/1), sekaligus menegaskan bahwa dia bukan pemilik saham PT Toba Pulp Lestari (TPL).
"Saya tidak pernah punya saham kecuali di perusahaan saya, yaitu Toba Sejahtera yang saya buat sendiri," kata Luhut dalam unggahan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PT Toba Sejahtera merupakan grup perusahaan yang berafiliasi dengan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA).
Melansir laman Bursa Efek Indonesia (BEI), kepemilikan saham PT Toba Sejahtera di emiten energi itu hingga Januari 2026 adalah 7,97 persen atau sekitar 658,5 juta lembar saham.
"Di situ (Toba Sejahtera) ada Kutai Energi, satu-satunya yang punya IUP yang saya dapat tahun 2003 atau 2004, IUP batu bara di Kutai Kartanegara. Itulah sampai hari ini milik saya," paparnya.
PT Kutai Energi merupakan perusahaan tambang batu bara di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Perusahaan tersebut sudah memperoleh izin usaha pertambangan (IUP-OP) di lahan seluas 6.892 hektare dan beroperasi sejak 2013.
Dalam video berdurasi lebih dari tiga menit, mantan menteri koordinator bidang kemaritiman dan investasi RI (menko marves) itu juga mengaku jengkel dituding sebagai pemilik TPL, karena sudah menyangkut harga diri.
Luhut menekankan dirinya tidak pernah tertarik memiliki saham-saham IUP nikel, khususnya saat menjabat sebagai Menko Marves. "Saya tidak mau!" tekannya.
Ia menyinggung sejarah berdirinya perusahaan bubur kertas tersebut saat masih disebut PT Inti Indorayon Utama alias Indorayon.
Purnawirawan jenderal TNI itu juga menyarankan Presiden Prabowo Subianto untuk mencabut izin usaha TPL, sama seperti dia meminta ke Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur 2001, silam.
Menurutnya, kehadiran TPL di Tanah Sumatra dinilai hanya akan menguntungkan pihak-pihak tertentu, dan berisiko merusak lingkungan.
"Itu orang-orang kaya yang menikmati hasil bumi kita, tinggalnya di luar, (kemudian) bawa duitnya keluar. Apa yang yang kita dapat? Ya kerusakan ini yang kita dapat," tegas Luhut.
Sebelumnya, TPL sempat digadang sebagai penyebab banjir dahsyat di Sumatra yang menelan lebih dari 600 nyawa akhir tahun lalu.
Perusahaan dengan kode saham INRU itu mengklaim sudah menjalankan operasional perusahaan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang terdokumentasi dan diawasi secara berkala. Perusahaan juga bekerja sama dengan Lembaga independen tersertifikasi.
(ins/sfr)