BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Terpuruk ke Level Rp16.800
Bank Indonesia (BI) ungkap penyebab rupiah terpuruk ke level Rp16.800 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh Rp16.877 pada penutupan perdagangan Selasa (13/1).
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin G Hutapea mengatakan lembaganya konsisten menjaga stabilitas nilai tukar demi mendukung pertumbuhan ekonomi.
Namun menurutnya, memang pergerakan rupiah dipengaruhi oleh berbagai sentimen, tak hanya dalam negeri tapi juga global. Misalnya, kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun. Kondisi ini mendorong Rupiah melemah dan ditutup pada level Rp16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04 persen secara year-to-date," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (14/1).
Lihat Juga : |
Meskipun demikian, Erwin menekankan pelemahan rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, di antara nya won Korea yang melemah sebesar 2,46 persen dan peso Filipina sebesar 1,04 persen.
"Stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder," jelasnya.
Selain itu, berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto yang mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026 juga turut mendukung terkendalinya stabilitas rupiah.
Hal sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yang tetap positif, tercermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps.
Menurut Erwin, ketahanan eksternal juga tetap baik tercermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar US$156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor atau sangat memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global.
Erwin memastikan Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat.
"Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," pungkasnya.
(ldy/pta)