Investasi Emas-Perak Batangan vs Perhiasan, Mana yang Lebih Cuan?

CNN Indonesia
Rabu, 21 Jan 2026 12:28 WIB
Investasi emas dan perak batangan dinilai lebih menguntungkan sebagai instrumen murni dibandingkan perhiasan, terutama dari transparansi harga, likuiditas, dan potensi imbal hasil ketika dijual kembali. Ilustrasi (CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah ketidakpastian fluktuasi pasar keuangan dan ekonomi global, investasi logam mulia seperti emas dan perak kembali menjadi pilihan masyarakat.

Investasi emas dan perak batangan dinilai lebih menguntungkan sebagai instrumen murni dibandingkan perhiasan, terutama dari transparansi harga, likuiditas, dan potensi imbal hasil ketika dijual kembali.

Berdasarkan situs Sahabat Pegadaian, harga emas cetakan Galeri24 dan UBS kompak naik pada perdagangan Selasa (20/1).

Harga emas Galeri24 tercatat di Rp2,731 juta per gram, naik Rp43 ribu dari harga Senin (19/1) yang berada di Rp2,688 juta per gram. Sementara, Harga emas UBS dipatok Rp2,783 juta per gram, naik Rp44 ribu dari harga hari sebelumnya sebesar Rp2,739 per gram.

Berdasarkan data situs Logam Mulia Antam, harga dasar emas Antam ukuran 1 gram berada di level Rp2,705 juta, naik tipis dari hari sebelumnya di Rp2,703 juta per gram.

Sementara itu, mengutip Reuters harga perak mencatatkan rekor baru. Untuk harga perak spot melonjak 3,6 persen ke US$93,15 (Rp1,5 juta) per ounce, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi US$94,08 (Rp1,59 juta) per ounce.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita mengatakan emas dan perak batangan jauh lebih unggul dibandingkan perhiasan, dari perspektif investasi murni. Menurutnya, nilai emas dan perak batangan hampir sepenuhnya merefleksikan harga logam mulia atau spot price, dengan komponen biaya tambahan yang relatif kecil dan sangat transparan.

"Ketika harga emas atau perak naik di pasar global, nilai batangan ikut naik hampir satu banding satu. Inilah yang membuatnya efisien sebagai instrumen investasi," ujar Ronny kepada CNNIndonesia.com.

Sebaliknya, Ronny menjelaskan perhiasan mengandung banyak unsur non-investasi, seperti ongkos desain, biaya pengerjaan, merek, serta margin toko yang cenderung tidak diakui kembali saat perhiasan dijual.

"Ketika dilepas ke pasar sekunder, perhiasan umumnya dihargai hanya berdasarkan berat dan kadar logamnya, bahkan sering kali masih dipotong biaya lebur. Akibatnya, secara ekonomi, perhiasan mengalami built-in loss sejak hari pertama dibeli," terangnya.

Adapun kelemahan lain dari investasi perhiasan adalah likuiditas dan transparansi harga sehingga kurang ideal bagi investor yang mengejar kepastian nilai.

Ronny menerangkan emas dan perak batangan memiliki standar berat dan kemurnian yang jelas, diakui secara luas, dan mudah dijual kembali di banyak tempat dengan selisih harga jual-beli yang relatif sempit. Sementara, perhiasan nilainya sangat subjektif, bergantung pada selera pasar, kondisi fisik, dan penilaian pedagang.

"Jadi dalam konteks ketidakpastian ekonomi global saat ini, mulai dari tensi geopolitik, risiko resesi, volatilitas pasar keuangan, hingga kebijakan suku bunga global, logam mulia batangan memang lebih tepat diposisikan sebagai instrumen lindung nilai (hedging)," kata Ronny.

Ia mengatakan emas dan perak secara historis berfungsi sebagai store of value ketika mata uang tertekan dan aset finansial berfluktuasi tajam.

"Karena efisiensi dan kemurnian nilainya, bekerja lebih optimal untuk tujuan tersebut dibanding perhiasan," ujar Ronny.

Dengan demikian, Ronny menegaskan emas dan perak batangan adalah pilihan rasional jika tujuannya adalah investasi dan perlindungan nilai kekayaan sedangkan perhiasan relevan dengan fungsi estetika dan sosial bukan instrumen investasi.

"Perhiasan tetap relevan untuk fungsi estetika dan sosial, tetapi jika dijadikan instrumen investasi, ekspektasinya perlu disesuaikan," pungkasnya.

Terpisah, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan perhiasan mempunyai kelemahan, salah satunya harganya bisa dipotong banyak biaya administrasi.

"Apalagi kalau dianggap perhiasan yang sudah dipakai, harga jual kembalinya jauh lebih rendah, meskipun harga emasnya sedang naik," ujar Bhima.

Lihat Juga :

Bhima menambahkan perhiasan tidak mudah untuk diperjualbelikan dibandingkan logam mulia batangan, termasuk emas dan perak. Sementara logam mulia batangan mempunyai kemurnian tinggi dan tidak banyak campuran sehingga harganya di pasaran bisa lebih tinggi ketika dijual kembali.

"Jadi memang disarankan kenapa bahkan bagi yang mau menikah, maharnya berbentuk logam mulia atau batangan, bukan perhiasan. Karena itu justru jauh lebih menguntungkan dalam jangka panjang," tambahnya.

Bhima pun menyayangkan edukasi terkait investasi logam mulia batangan masih kurang di masyarakat. Padahal investasi emas dan perak batangan bisa melindungi dari inflasi.

"Edukasi masih kurang, sehingga banyak orang memburu emas karena harganya sedang naik, yang dibeli justru emas perhiasan. Padahal kalau untuk investasi dan melindungi dari inflasi, yang paling tepat adalah logam mulia emas batangan," ungkap Bhima.

(fln/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK