ANALISIS

Apa Bahayanya Kalau Rupiah Terus Longsor hingga Tembus Rp17 Ribu?

Lidya Julita Sembiring | CNN Indonesia
Rabu, 21 Jan 2026 08:25 WIB
Pelemahan rupiah tak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi RI buruk, tetapi ada risiko inflasi sunyi mengintai, terutama bagi kelas menengah ke bawah.
Pelemahan rupiah tak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi RI buruk, tetapi ada risiko inflasi sunyi mengintai, terutama bagi kelas menengah ke bawah. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah melemah hingga nyaris menembus Rp17.000 per dolar AS menjadi perhatian serius pelaku pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran soal dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Kurs rupiah ditutup di level Rp16.956 per dolar AS pada Selasa (20/1) sore. Kondisi ini membuat rupiah berada di level terburuk sepanjang sejarah. Posisi terlemah mata uang Garuda sebelumnya terjadi pada 8 April 2025, saat nilai tukar Rp16.891 per dolar AS.

Ekonom menilai kondisi ini memang belum masuk kategori krisis. Namun, tetap membawa konsekuensi nyata bagi perekonomian jika tren pelemahan berlangsung berkepanjangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menilai dampak pelemahan rupiah sudah mulai terasa, terutama bagi sektor-sektor yang bergantung pada impor dan pembiayaan berbasis valuta asing.

Ia menambahkan tekanan juga berpotensi menjalar ke inflasi apabila tidak segera direspons dengan kebijakan yang tepat.

"Pelemahan rupiah yang mendekati Rp17.000 dampaknya nyata tapi belum krisis. Yang paling cepat dirasakan masyarakat adalah tekanan harga barang impor dan beban utang, baik di sektor usaha maupun APBN. Kalau dibiarkan lama, inflasi bisa ikut terdorong," ujar Ronny kepada CNNIndonesia.com.

Jika rupiah menembus Rp17 ribu per dolar AS, dampak yang paling cepat dan langsung dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga barang impor. Itu termasuk barang yang sangat tergantung bahan baku impor, yakni mencakup bahan pangan tertentu, obat-obatan, alat kesehatan, elektronik, hingga BBM dan LPG.

Namun, Ronny menyebut kenaikan biaya hidup ini tidak diikuti kenaikan pendapatan. Masyarakat mungkin tidak sadar kurs rupiah loyo, tapi mereka sangat sadar saat harga beras impor, gula, daging, ongkos transportasi, dan listrik terasa makin mahal.

"Ujungnya semacam 'inflasi sunyi' di mana rupiah melemah perlahan, tapi dompet bocor dalam waktu cepat. Jelas tekanan inflasi meningkat, dan daya beli, terutama kelas menengah bawah, akan tergerus," katanya.

Ronny menjelaskan pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri, tapi dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS sebagai aset aman di tengah ketidakpastian global menjadi tekanan utama bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tekanan terhadap rupiah, kata Ronny, menjadi lebih besar karena sentimen dari dalam negeri. Kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal dan arah kebijakan ekonomi RI turut memperlemah kepercayaan investor.

"Salah satunya (sentimen) defisit yang melebar, sementara ada ancaman kenaikan BBM yang akan menekan APBN akibat potensi kenaikan subsidi energi," katanya.

Menurut Ronny, pasar melihat fundamental ekonomi RI relatif terjaga, tetapi sinyal was-was yang diberikan pasar menunjukkan pentingnya menjaga kredibilitas kebijakan agar tekanan terhadap rupiah tidak berlarut-larut.

"Jadi dari sisi global, pelemahan ini terbilang wajar, tapi tidak sepenuhnya sehat dari sisi domestik. Pasar sedang memberi sinyal bahwa fundamental ekonomi kita masih oke, tapi kredibilitas kebijakan harus terus dijaga. Kalau kepercayaan pulih, rupiah juga ikut pulih," jelasnya.

Senada, Ekonom Bright Insitute Muhammad Andri Perdana mengatakan dampak langsung terasa pada kenaikan harga-harga barang impor. Industri-industri yang menggunakan bahan baku impor ini banyak yang margin profitnya sudah tipis, sehingga jika ada kenaikan harga bahan baku, maka kebanyakan mau tidak mau harus menaikkan harga.

"Banyak consumer goods dan bahan baku manufaktur dalam negeri yang banyak bergantung pada barang-barang impor tersebut, dari barang-barang elektronik sampai bahan baku pangan seperti gandum dan kedelai yang jadi dasar pangan ternak dan berbagai makanan seperti tahu dan tempe," katanya.

Di luar dampak langsung, sambung Andri, dampak signifikan bagi masyarakat juga dari konsekuensinya terhadap kebijakan moneter bank sentral. Ketika nilai tukar rupiah menjadi semakin terdepresiasi seperti sekarang, maka Bank Indonesia (BI) berpotensi kesulitan untuk memangkas suku bunga.

"Akibatnya, suku bunga di perbankan menjadi semakin sulit turun, yang membatasi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan pekerjaan baru," katanya.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet melihat pelemahan rupiah ini masih tergolong wajar. Tekanan terhadap mata uang negara berkembang terjadi secara luas, seiring penguatan dolar AS dan perubahan perilaku investor global yang cenderung masuk ke aset aman. Kondisi ini bukan mencerminkan ekonomi Indonesia yang tiba-tiba memburuk. 

"Jadi rupiah melemah bukan karena kondisi Indonesia tiba-tiba memburuk, tapi karena sedang kena arus global yang memang tidak ramah bagi mata uang berkembang," terangnya.

Mengerem Longsor Rupiah BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2