Apa Bahayanya Kalau Rupiah Terus Longsor hingga Tembus Rp17 Ribu?
Meski demikian, Yusuf mengingatkan faktor domestik tetap berperan memperkuat tekanan dari luar. Kekhawatiran terhadap defisit APBN, arus keluar dana asing, serta ekspektasi kebijakan moneter turut memengaruhi pergerakan rupiah.
Oleh sebab itu, ia menilai faktor dalam negeri perlu dikelola dengan hati-hati agar tidak memperbesar tekanan eksternal. Stabilitas kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci menjaga kepercayaan pasar.
"Faktor dalam negeri ikut memperbesar tekanannya seperti kekhawatiran defisit APBN 2026, keluarnya dana asing dari SBN, serta ekspektasi penurunan suku bunga BI yang membuat investor lebih berhati hati memegang aset rupiah," tegasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yusuf mengatakan membendung kurs rupiah 'longsor' menjad PR besar Bank Indonesia (BI). Fokus bank sentral seharusnya tidak semata-mata menahan pergerakan nilai tukar, tetapi juga mencegah tekanan eksternal berubah jadi kepanikan domestik.
Langkah pertama yang perlu dilakukan BI adalah menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah. Selisih imbal hasil dengan negara maju, khususnya AS, harus tetap kompetitif agar arus modal asing tidak mudah keluar.
"Saat The Fed (bank sentral AS) masih ketat, selisih imbal hasil tidak boleh terlalu menyempit. Artinya, sinyal suku bunga dan likuiditas harus pro-stabilitas agar arus modal tidak mudah keluar," katanya.
Selain itu, Yusuf menekankan pentingnya konsistensi dalam kebijakan stabilitas nilai tukar. BI perlu memastikan intervensi di pasar valas dilakukan untuk meredam volatilitas, bukan mempertahankan level tertentu.
"Stabilisasi valas perlu konsisten, bukan reaktif. Intervensi spot, DNDF, dan SBN diarahkan meredam volatilitas, bukan mempertahankan level tertentu, supaya pelemahan tidak berubah menjadi overshooting," jelasnya.
Penguatan pasokan devisa juga menjadi faktor penting untuk menopang rupiah dalam jangka menengah. Yusuf menilai ketergantungan pada dana portofolio perlu dikurangi dengan mengoptimalkan sumber devisa dari sektor riil.
"Pasokan devisa perlu diperkuat lewat optimalisasi DHE ekspor, repatriasi devisa, dan pendalaman pasar keuangan, agar tekanan dolar tidak hanya bergantung pada dana portofolio," ujarnya.
Di sisi lain, koordinasi kebijakan antara otoritas moneter dan fiskal dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan pasar. APBN yang kredibel akan menekan premi risiko dan membantu menahan tekanan terhadap rupiah.
"Koordinasi fiskal penting sebagai jangkar kepercayaan. APBN yang kredibel menurunkan premi risiko dan ikut menopang rupiah," kata Yusuf.
Pada akhirnya, Yusuf menegaskan bahwa tantangan utama BI adalah mengelola ekspektasi pasar. Pelemahan rupiah masih dapat ditoleransi selama berlangsung secara teratur dan terkendali.
"Intinya, BI mengelola ekspektasi. Rupiah boleh menyesuaikan, tapi tidak boleh jatuh secara tidak teratur. Yang dijaga adalah kepercayaan dan pembiayaan eksternal, bukan sekadar angka kurs," pungkasnya.
(pta)