Bahlil Kejar RI Setop Impor BBM Pertamax Akhir 2027

CNN Indonesia
Kamis, 22 Jan 2026 16:46 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ingin Indonesia berhenti impor bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ingin Indonesia berhenti impor bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ingin Indonesia berhenti impor bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax.

Bahlil mengatakan rencana tersebut sedang dirancang tahun ini dan ditargetkan bisa direalisasikan pada akhir 2027. 

Saat impor disetop, Bahlil menegaskan Indonesia akan mengolahnya sendiri di kilang domestik dengan tetap mengimpor minyak mentah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk 2026 ini juga telah kita merancang untuk 2027 tidak lagi kita melakukan impor bensin yang RON 92, 95, 98. Nah, ini kita akan selesaikan nanti di akhir 2027, supaya apa? Kita tidak lagi terlalu banyak mengimpor produk tapi nanti yang kita depan adalah kita impor adalah crude-nya," ujar Bahlil dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Kamis (22/1).

Kendati demikian, Indonesia masih tetap akan mengimpor BBM subsidi Pertalite.

"Tinggal kita impor yang RON 90 saja, yang untuk subsidi," tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Bahlil juga memastikan Indonesia mulai awal tahun 2026 sudah tak mengimpor BBM solar tipe CN 48.

"Sekarang di 2026 kami rencanakan tidak lagi akan melakukan impor solar, khususnya CN 48 karena antara konsumsi dan produksi dalam negerinya sudah seimbang, seiring dengan blending dengan B40," terang Bahlil.

Sama halnya dengan avtur, Bahlil menegaskan Indonesia tak akan mengimpornya lagi karena adanya surplus solar hasil produksi Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.

Kemudian, pada semester 2 tahun 2026, Bahlil mengatakan Indonesia akan menyetop impor solar jenis CN 51 yang berkualitas tinggi.

"Sekarang kami dengan Pertamina bekerja keras agar kelebihan solar yang 1,4 juta dikonversi menjadi bahan baku dalam membangun avtur. Agar 2027 betul-betul kita sudah tidak melakukan impor avtur, solar CN 51," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(fln/sfr)