Love Scam Mengganas, OJK Ingatkan Masyarakat Waspada

CNN Indonesia
Kamis, 22 Jan 2026 20:45 WIB
OJK memperingatkan masyarakat untuk waspada terhadap jenis penipuan digital yang memanfaatkan psikologi korban melalui hubungan asmara (love scam).
OJK memperingatkan masyarakat untuk waspada terhadap jenis penipuan digital yang memanfaatkan psikologi korban melalui hubungan asmara (love scam). llustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperingatkan masyarakat Indonesia untuk waspada terhadap jenis penipuan digital yang memanfaatkan psikologi korban melalui hubungan asmara (love scam) yang kian mengganas di tingkat global.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi Friderica menekankan, modus penipuan yang paling marak di Indonesia antara lain penipuan belanja online, investasi bodong, impersonation, penipuan kerja, hingga penipuan melalui media sosial.

Di tingkat global, love scam menjadi salah satu modus yang paling menonjol.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Satu hal yang menjadi penting, khusus, adalah maraknya love scam," ujar Friderica saat acara Penyerahan Dana Masyarakat Korban Scam yang Berhasil Diselamatkan Melalui Sinergi dan Kolaborasi Indonesia Anti Scam Centre (IASC) di Jakarta, Rabu (21/01)

"Love scam itu sudah menjadi satu yang utama di negara-negara lain. Jadi mungkin juga ini harus kita antisipasi juga," tambahnya.

Laporan IASC menunjukkan penipuan digital paling banyak terjadi di Jawa, dengan provinsi seperti Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten sebagai wilayah dengan jumlah laporan tertinggi.

Ia menjelaskan, sejak IASC beroperasi, OJK telah menerima sekitar 432 ribu laporan masyarakat terkait dugaan penipuan. Dari laporan tersebut, tercatat 721 ribu rekening terindikasi terkait aktivitas scam, dengan sekitar 397 ribu rekening di antaranya telah diblokir. Modus penipuan ini diperkirakan menimbulkan kerugian negara hingga Rp9 triliun.

Menurut Friderica, total dana masyarakat yang berhasil diblokir mencapai lebih dari Rp400 miliar. Namun, pada tahap awal, dana yang telah melalui proses hukum dan administrasi secara clean and clear baru sebesar Rp161 miliar.

"Sebetulnya dana yang bisa kita blokir adalah 400 miliar rupiah namun hari ini yang bisa kita kembalikan clean and clear Rp161 (miliar)," ujarnya.

Friderica menekankan, kecepatan pelaporan menjadi kunci keberhasilan pengembalian dana. Korban yang melapor cepat berpeluang mendapatkan pengembalian hingga 100 persen, sedangkan keterlambatan membuat dana berpindah ke berbagai kanal, termasuk belanja online, e-wallet, dan kripto.

"Yang orang lapornya cepat, dana itu dikembalikan 100 persen. Namun kalau lama ya itu sudah kemana-mana karena itu nggak cuman muter-muter di sektor perbankan, tapi masuk ke sisa pembayaran. Masuk ke misalnya belanja online, masuk ke kripto, dan lain-lain," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(lau/sfr)