OJK Bongkar Pemicu 1.399 Mesin ATM Indonesia Tutup Sepanjang 2025

CNN Indonesia
Senin, 26 Jan 2026 13:43 WIB
OJK mengungkap penyebab 1.399 unit mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang tutup hanya dalam waktu setahun akibat transformasi teknologi.
OJK mengungkap penyebab 1.399 unit mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang tutup hanya dalam waktu setahun akibat transformasi teknologi. (CNN Indonesia/Safir Makki
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap penyebab 1.399 unit mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang tutup hanya dalam waktu setahun saja.

Berdasarkan Laporan Surveillance Perbankan Indonesia (LSPI) yang dirilis OJK, jumlah mesin ATM, CDM, dan CRM di Indonesia sampai kuartal III/2025 mencapai 89.774 unit, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 91.173 unit.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan kondisi penutupan tersebut merupakan langkah yang dilakukan berdasarkan keputusan bisnis masing-masing bank. Selain itu, transformasi teknologi yang makin masif menjadi penyebab utama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oleh sebab itu, langkah penutupan mesin ATM besar kemungkinan akan terus berlanjut ke depannya.

"Tidak tertutup kemungkinan bahwa tren penurunan jumlah ATM akan terus berlanjut seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi informasi di bidang keuangan yang semakin masif, yang mana berdampak pada perubahan perilaku, ekspektasi, dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan dari bank," ujarnya dalam keterangan tertulis, yang dikutip pada Senin (26/1).

Menurut Dian, adopsi teknologi digital dalam layanan perbankan memungkinkan nasabah mengakses layanan kapan saja dan di mana saja. Selain itu, semakin mudahnya akses layanan melalui aplikasi dan platform daring, serta meningkatnya penggunaan pembayaran non tunai, maka kebutuhan penggunaan ATM menjadi semakin terminimalisir.

"Perbankan tetap memandang efisiensi operasional sebagai salah satu fokus, sehingga peningkatan akses layanan digital akan mendukung peningkatan efisiensi operasional perbankan melalui pengurangan biaya infrastruktur fisik dan optimalisasi proses layanan," jelasnya.

Lebih lanjut, ia melihat efisiensi tersebut pada akhirnya dapat memperkuat kinerja keuangan dan mendukung profitabilitas perbankan.

Tak hanya itu, pemanfaatan teknologi juga mendorong transaksi keuangan non-tunai atau cashless yang semakin meluas di masyarakat. Hal ini tercermin dari semakin banyaknya pengguna transaksi QRIS BI.

"Sistem cashless ini dapat mendukung transaksi ekonomi yang berjalan menjadi lebih efisien, sehingga diharapkan akan lebih mendorong peningkatan aktivitas perekonomian lebih lanjut," pungkasnya.

(ldy/ins)