Badai AS dan Manuver Militer Trump Gagal Dongkrak Harga Minyak

CNN Indonesia
Selasa, 27 Jan 2026 10:57 WIB
Harga minyak mentah dunia melemah pada Selasa (27/1), meskipun produksi minyak Amerika Serikat (AS) terganggu imbas badai musim dingin.
Harga minyak mentah dunia melemah pada Selasa (27/1), meskipun produksi minyak Amerika Serikat (AS) terganggu imbas badai musim dingin. (Dok. AKR Corporindo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan Selasa (27/1), meskipun produksi minyak Amerika Serikat (AS) terganggu imbas badai musim dingin.

Badai ini menyebabkan pemangkasan produksi minyak, serta mengganggu operasional kilang di wilayah Teluk AS.

Mengutip Reuters, harga minyak kontrak berjangka Brent turun 28 sen atau 0,4 persen menjadi US$65,31 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 24 sen atau 0,4 persen ke level US$60,39 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di AS, produsen minyak diperkirakan kehilangan produksi hingga 2 juta barel per hari atau sekitar 15 persen dari total produksi nasional selama akhir pekan. Gangguan tersebut terjadi akibat badai musim dingin yang menyapu sejumlah wilayah dan membebani infrastruktur energi serta jaringan listrik.

Sejumlah kilang di sepanjang pesisir Teluk AS juga melaporkan masalah operasional akibat cuaca beku. Analis ANZ Daniel Hynes menilai kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan bahan bakar.

Dari sisi geopolitik, sebuah kapal induk AS beserta kapal perang pendukungnya telah tiba di Timur Tengah. Dua pejabat AS mengatakan kehadiran armada tersebut memperluas kemampuan Presiden Donald Trump untuk melindungi pasukan AS atau berpotensi melakukan aksi militer terhadap Iran.

"Risiko pasokan belum sepenuhnya menghilang. Ketegangan di Timur Tengah masih berlanjut setelah Presiden Trump mengirimkan aset angkatan laut ke kawasan tersebut," kata Hynes.

Sementara itu, delapan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) diperkirakan akan mempertahankan jeda peningkatan produksi minyak pada Maret.

Tiga delegasi OPEC+ menyebut keputusan tersebut akan dibahas dalam pertemuan pada 1 Februari, seiring harga minyak yang terdorong oleh penurunan produksi Kazakhstan.

Delapan negara OPEC+ yang akan menggelar pertemuan tersebut adalah Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/pta)