IHSG Anjlok, BEI Bekukan Perdagangan Saham Dua Hari Berturut-turut

CNN Indonesia
Kamis, 29 Jan 2026 15:25 WIB
BEI dua kali membekukan sementara perdagangan saham. Paling anyar, dilakukan usai IHSG turun 8 Persen dan sempat menyentuh level 7.481, Kamis (29/1) pagi. Ilustrasi. (ANTARA/ASPRILLA DWI ADHA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menyentuh level terendah 7.481 pada sesi perdagangan pertama,Kamis (29/1) pagi. Alhasil, Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali membekukan sementara perdagangan saham (trading halt) di pasar modal.

Melansir RTI Infokom, pada penutupan perdagangan sesi pertama Kamis (29/1), IHSG berada di level 7.828. Level tersebut mencerminkan penurunan 5,91 persen atau 492,08 poin. Sebanyak 720 saham mengalami penurunan, 65 saham berpotensi naik dan 22 saham stagnan.

Adapun pada pembukaan perdagangan hari ini, indeks saham Tanah Air berada di level 8.027.

Penurunan IHSG pagi tadi direspons cepat oleh BEI dengan menutup sementara perdagangan di pasar modal. Langkah tersebut dilakukan pada pukul 09:26:01 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), hingga 09:56:01 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan.

"Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 8 persen," kata Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad, dalam keterangan resmi, Kamis (29/1).

Itu bukan kali pertama, kemarin (28/1) BEI sudah mengambil langkah serupa lantaran IHSG anjlok hingga 8 persen. Trading halt dilakukan pada pukul 13:43:13 hingga 14:13:13 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan. Alasan serupa juga disampaikan Kautsar, dimana IHSG sudah merosot 8 persen.

IHSG ditutup di level 8.320 pada perdagangan Rabu (28/1) sore. Indeks saham terperosok 659,67 poin atau minus 7,35 persen dari perdagangan sebelumnya.

Mengutip RTI Infokom, investor melakukan transaksi sebesar Rp45,48 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 60,85 miliar saham. Pada penutupan kemarin, 37 saham menguat, 753 terkoreksi, dan 16 stagnan.

Apa yang memicu trading halt?

Perusahaan pembobotan saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan untuk membekukan sementara perlakuan indeks untuk saham-saham Indonesia, Rabu (28/1).

MSCI memilih menerapkan interim freeze yang berlaku segera. Kebijakan tersebut mencakup pembekuan seluruh kenaikan bobot saham Indonesia, penghentian penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI, serta tidak adanya kenaikan kelas saham di seluruh segmen indeks.

Sontak, pengumuman tersebut mengejutkan pelaku pasar dan memukul IHSG Tanah Air hingga 8 persen dalam dua hari terakhir. Pasalnya, indeks MSCI merupakan acuan utama investor asing, manajer investasi, hingga dana pensiun global dalam mengukur kinerja saham.

Tak sembarang saham yang bisa masuk indeks MSCI. Umumnya, itu adalah saham dengan kapitalisasi atau bernilai besar dan likuid. Perusahaan yang masuk dalam indeks tersebut mendapat pengakuan dari global dan memiliki kelayakan investasi alias investability yang tinggi.

Emiten Tanah Air yang masuk dalam indeks MSCI cenderung mengalami kenaikan harga saham, ditopang arus modal masuk capital inflow dari investor asing.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan catatan yang disampaikan perusahaan pembobotan tersebut akan ditindaklanjuti oleh OJK, sehingga tidak mengubah fundamental pasar secara keseluruhan.

"Ini mungkin orang shock akan possibility kita, pasarnya dianggap pasar apa gitu, frontier level. Tapi saya kan nggak akan turun ke sana, karena fondasi kita bagus. Nanti kekurangan-kekurangan yang disebutkan MSCI akan diperbaiki oleh Pak Mahendra (OJK)," jelas Purbaya, Kamis (29/1)

Purbaya pun menyampaikan keyakinannya terhadap prospek IHSG saat akhir tahun, diprediksi mampu menyentuh 10.000. Itu karena, tekanan di pasar saham terutama terjadi pada saham-saham spekulatif. Menurutnya, saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip dinilai masih relatif solid karena kenaikannya belum terlalu tinggi.

Hal senada disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang mengimbau investor pasar modal tetap tenang menyikapi ambruknya IHSG.

"Enggak perlu panik. Kalau saham kan risikonya tiap hari ada yang naik, ada yang turun," kata Airlangga di kompleks Istana Jakarta, Rabu (28/1).

Airlangga menilai aksi MSCI turut menjadi sinyal evaluasi bagi BEI.

"Tentu dari BEI itu perlu melakukan evaluasi. Kalau transparansi, itu persyaratan bagi seluruh penyelenggara pasar modal. Jadi itu bisa dilakukan improvement dengan mekanisme yang sudah banyak dipraktikkan banyak negara," ujarnya.

Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memproyeksikan IHSG masih tertekan lantaran pergerakannya berada dalam fase koreksi. Tekanan penurunan diperkirakan berlanjut dengan potensi koreksi ke kisaran 8.127-8.168.

"Posisi IHSG saat ini diperkirakan sedang berada pada bagian dari wave (c) dari wave [iv] dari wave 3, sehingga IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya, meski ruang penguatan terbatas masih terbuka di area 8.374-8.490," ujar dia dalam riset hariannya.

Berdasarkan analisa teknikal Bloomberg, IHSG dinilai mulai mendekati area support penting.

"Secara teknikal, IHSG berpotensi bangkit dari support-nya dari area level 7.770," tulis laporan Bloomberg.

Apabila indeks mampu bertahan dan bergerak stabil di atas area tersebut, peluang rebound dinilai cukup besar.

Target penguatan terdekat berada di level psikologis 8.000 yang sekaligus berfungsi sebagai resistance awal. Jika momentum berlanjut, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan ke area 8.400.

Selain itu, terdapat resistance lanjutan yang cukup kuat di sekitar level 8.680. Level ini berpotensi menjadi tantangan berikutnya apabila sentimen pasar membaik.

Dari sisi bawah, area 7.700 dipandang sebagai support terdekat yang cukup penting. Support berikutnya berada di kisaran 7.200.

Sementara itu, dalam skenario paling pesimistis, tekanan lanjutan dapat membawa IHSG turun hingga area 7.000, bahkan 6.700. Namun, semakin mendekati area tersebut, potensi technical rebound dinilai semakin besar.

Dari sisi sentimen, tekanan pasar dipicu oleh keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan seluruh kenaikan bobot saham Indonesia dalam indeksnya.

Senior Partner SGMC Capital Mohit Mirpuri menilai dalam jangka pendek sentimen pasar cenderung netral hingga negatif, mengingat Indonesia berada dalam masa "percobaan" hingga Mei mendatang. Ia menyarankan investor untuk bersikap wait and see sambil menunggu kejelasan lebih lanjut.

Meski begitu, Mirpuri menegaskan bahwa secara historis, periode ketidakpastian justru kerap menjadi peluang bagi investor jangka panjang. Menurutnya, pasar sering kali mulai menguat sebelum ketidakpastian benar-benar berakhir.

Oleh karena itu, di tengah tekanan saat ini, investor dinilai mulai dapat mencermati saham-saham berpotensi memiliki kinerja cemerlang lalu kemudian melakukan pembelian.

Perlu diketahui, pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (29/1), IHSG ditutup di level 8.232 atau tercatat melemah 1% dari pembukaan. Adapun total volume perdagangan mencapai 973 miliar dengan nilai transaksi Rp 66,7 triliun.

Berikut 10 Saham Indonesia Teratas dalam Indeks MSCI per 31 Desember 2025:

1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai pasar US$26,86 miliar
2. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan kapitalisasi pasar US$ 14,97 miliar
3. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan nilai pasar US$11,42 miliar
4. PT Telekom Indonesia Tbk (TLKM) dengan nilai US$10,34 miliar
5. PT Astra International Tbk (ASII) kapitalisasi pasar US$8,13 miliar
6. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan nilai pasar US$6.07 miliar
7. PT Amman Mineral INTL Tbk (AMMN) dengan kapitalisasi US$5,59 miliar
8. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan nilai US$4,67 miliar
9. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan kapitalisasi US$4,6 miliar
10. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan nilai US$3,91 miliar

(ins/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK