Mengintip Kilang Balongan, Penyangga Pasokan BBM Warga Jakarta

CNN Indonesia
Jumat, 30 Jan 2026 07:48 WIB
Kilang Refinery Unit (RU) VI Balongan menjadi salah satu penopang utama pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Kilang Refinery Unit (RU) VI Balongan menjadi salah satu penopang utama pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. (CNN Indonesia/Dela Naufalia).
Indramayu, CNN Indonesia --

Kilang Refinery Unit (RU) VI Balongan menjadi salah satu penopang utama pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Kilang yang dioperasikan oleh PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) ini menyuplai BBM ke Jakarta, Banten, dan Jawa Barat melalui jaringan pipa, terminal, serta jalur distribusi laut.

Engineer Offsite Refinery Unit VI Balongan Nanda Tri Wibowo mengatakan posisi Balongan sangat strategis karena berperan langsung dalam memenuhi kebutuhan energi di kawasan dengan konsumsi BBM tertinggi di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Balongan ini menyuplai sebagian besar kebutuhan BBM untuk Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Dari kilang, produk kami dikirim ke IT (Integrated Terminal) Balongan, lalu didistribusikan ke wilayah seperti Depok, Cikampek, Bandung, dan sekitarnya," ujar Nanda dalam media briefing di Kantor PT KPI Refinery Unit VI Balongan, Indramayu, Kamis (29/1).

Saat ini, PT KPI mengoperasikan enam kilang aktif, mulai dari RU II hingga RU VII. Khusus RU VI Balongan, kilang ini memiliki kapasitas pengolahan sekitar 150 ribu barel minyak per hari atau setara 14,2 persen dari total kapasitas kilang Pertamina.

Kilang Balongan dibangun pada 1994 dan terus mengalami pengembangan, termasuk melalui proyek revamping dan Refinery Development Master Plan (RDMP) yang meningkatkan kapasitas produksi sekitar 20 persen.

Dari sisi bahan baku, Nanda menjelaskan pasokan minyak mentah Kilang Balongan mayoritas berasal dari dalam negeri.

Sekitar 60 persen crude oil diperoleh dari sumber domestik, sementara 35 persen berasal dari impor. Selain itu, kilang juga menerima nafta yang kemudian diolah lebih lanjut menjadi produk bernilai jual.

"Untuk crude oil, sekitar 60 persen berasal dari dalam negeri dan sekitar 35 persen dari impor. Selain itu, kami juga menerima nafta yang kemudian diolah lebih lanjut di unit proses untuk menjadi produk jadi," ujarnya.

Produk yang dihasilkan Kilang Balongan didominasi oleh BBM. Sekitar 82 persen merupakan produk fuel, 11 persen non-fuel, dan 7 persen lainnya masuk kategori produk lain.

Dari sisi BBM, bensin menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 53 persen, mencakup produk Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo. Selain bensin, Balongan juga memproduksi gasoil seperti Solar dan Pertamina Dex, avtur, LPG, hingga propilen.

Nanda juga menjelaskan proses pengolahan BBM di Kilang Balongan yang kerap disederhanakan sebagai proses 'memasak' minyak mentah. Menurut dia, minyak mentah yang diterima kilang tidak serta-merta menjadi BBM siap pakai.

"Crude oil yang masuk akan disimpan terlebih dulu, kemudian dilakukan preparasi sebelum dikirim ke unit proses. Di unit proses ini crude diproses melalui CDU atau crude distillation, lalu ke unit lanjutan seperti RCC, nafta complex, dan unit lainnya untuk menghasilkan beberapa komponen produk," jelasnya.

Komponen-komponen tersebut, lanjut Nanda, belum langsung menjadi produk akhir seperti Pertalite atau Pertamax. Produk hasil pengolahan masih harus melalui tahap blending untuk menyesuaikan spesifikasi yang ditetapkan regulator.

"Jadi di refining itu kita tidak langsung menghasilkan misalnya Pertalite RON 90 atau Pertamax RON 92. Prosesnya tidak bisa langsung menghasilkan RON tersebut. Kita menghasilkan beberapa komponen dulu, nanti baru di-blending," imbuh Nanda.

"Di-blending itu dicampur untuk menentukan produk apa yang ingin kita hasilkan, mau RON 90, RON 92, atau RON 98, sesuai spesifikasi dari Dirjen Migas," tambahnya.

Setelah proses blending dan penyimpanan, produk BBM kemudian dikirim ke terminal distribusi melalui pipa, jetty, maupun fasilitas Single Point Mooring (SPM).

Lebih lanjut, Kilang Balongan memiliki beberapa fasilitas SPM dan jetty yang memungkinkan distribusi produk ke dalam dan luar Pulau Jawa, termasuk pengiriman ke wilayah seperti Pontianak dan Bintan.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr)