Rupiah dan IHSG Kompak Ambruk, Investor Ritel Harus Apa?
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian terasa dalam beberapa waktu terakhir. Rupiah keok melawan dolar AS, IHSG juga ambruk.
Pelemahan kurs, volatilitas pasar global, serta sentimen domestik membuat pergerakan pasar keuangan bergerak tidak stabil dan memicu kekhawatiran di kalangan investor ritel.
Di tengah kondisi tersebut, tidak sedikit investor yang dihadapkan pada dilema: bertahan, menambah investasi, atau justru menarik dana untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Tanpa strategi yang jelas, gejolak pasar berpotensi mendorong keputusan yang bersifat reaktif dan emosional.
Lantas, bagaimana sebaiknya investor menyikapi kondisi ketika rupiah dan IHSG sama-sama tertekan?
Lihat Juga : |
Berikut sejumlah tips investasi yang dapat menjadi pertimbangan agar keputusan keuangan tetap rasional dan terukur di tengah pasar yang sedang merana.
1. Kembali ke rencana dan profil risiko
Perencana keuangan OneShildt Budi Rahardjo menilai langkah investor sangat bergantung pada rencana awal investasi, tujuan keuangan, horison waktu, serta kemampuan menghadapi risiko.
Keputusan mengurangi risiko perlu dipertimbangkan apabila kerugian sudah tidak lagi bisa ditanggung, baik karena kebutuhan dana yang mendesak maupun kondisi psikologis investor.
"Jika memang ternyata kerugian investasi sudah tidak lagi bisa ditanggung oleh investor baik karena secara finansial dana akan dibutuhkan segera, dan secara karakter ternyata kerugian dalam investasi sudah menimbulkan keresahan serta situasi finansial tidak mungkin menutupi kerugian sementara maka sebaiknya memang investor perlu melakukan pengurangan risiko," ujar Budi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (30/1).
Sebaliknya, apabila kondisi finansial masih aman, tujuan keuangan masih panjang, serta pilihan investasi memiliki fundamental yang baik, situasi saat ini dapat dimanfaatkan sebagai peluang akumulasi.
Lihat Juga :EDUKASI KEUANGAN Tips Investasi Perak Buat Pemula |
Namun, keputusan tersebut tetap perlu dilakukan secara terukur, disertai diversifikasi portofolio dan pemahaman atas kebutuhan dana agar investor tidak terjebak pada keputusan emosional saat pasar bergejolak.
Pandangan serupa disampaikan perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho. Ia menyarankan investor tetap tenang dan berpegang pada rencana investasi yang telah ditetapkan sejak awal.
"Mengikuti plan investasi yang dijalankan selama ini. Bila plan-nya adalah sebagai investor yang mencari dividen, berarti ini saatnya untuk masuk lagi mengakumulasi saham lebih banyak," ujarnya.
2. Risiko atau peluang tergantung sudut pandang
Kondisi pasar yang tertekan tidak selalu memiliki arti yang sama bagi setiap investor. Budi Rahardjo menilai untuk jangka menengah hingga panjang, tekanan pasar dapat menjadi peluang, khususnya pada instrumen yang nilai intrinsiknya lebih tinggi dibandingkan harga pasar saat ini.
Namun, peluang tersebut hanya relevan bagi investor dengan likuiditas memadai dan disiplin investasi yang kuat. Tanpa kesiapan tersebut, volatilitas justru dapat meningkatkan risiko dan memperbesar potensi kerugian.
Sementara itu, Andi memandang perbedaan risiko dan peluang sangat ditentukan oleh gaya dan tujuan investasi.
"Akan menjadi risiko bila sudut pandangnya adalah investor yang sudah masuk dan plan investasinya trading jangka pendek," ujarnya.
Sebaliknya, bagi investor jangka panjang, koreksi pasar dapat dimanfaatkan untuk menambah kepemilikan aset karena harga yang lebih rendah.
3. Prioritaskan instrumen yang lebih stabil
Di tengah volatilitas pasar dan nilai tukar yang masih tinggi, investor juga dapat mempertimbangkan instrumen dengan fluktuasi yang relatif lebih rendah. Budi menyebut obligasi negara maupun instrumen pasar uang seperti deposito sebagai pilihan untuk menjaga stabilitas dan likuiditas portofolio.
"Tujuan dari instrumen ini bukan untuk mengejar return yang tinggi, tetapi menjaga stabilitas dan likuiditas sambil menunggu kondisi pasar lebih kondusif," kata Budi.
Sementara itu, Andi menambahkan obligasi ritel negara dan sukuk ritel negara juga dapat menjadi alternatif. Menurutnya, instrumen tersebut menawarkan imbal hasil yang relatif lebih tinggi dibandingkan bunga deposito, dengan risiko yang lebih rendah dibandingkan saham maupun reksa dana.
4. Hindari keputusan emosional saat pasar bergejolak
Kesalahan yang paling sering dilakukan investor ketika pasar tertekan adalah bersikap panik. Budi menilai kepanikan kerap muncul karena investasi tidak diawali dengan rencana yang jelas, terlalu mengikuti tren, minim pengetahuan dan pengalaman, serta mengabaikan prinsip diversifikasi sebagai penyeimbang portofolio.
"Kurang persiapan dana darurat juga salah satu penyebab yang mengakibatkan investor bereaksi secara emosional," ujarnya.
Sementara itu, Andi menyoroti kebiasaan melakukan cut loss secara panik meski kerugian sudah melebihi batas toleransi, serta sikap terlalu takut masuk pasar ketika harga aset sedang turun.
Menurut dia, kondisi pasar yang tertekan kerap bersifat sementara dan berpotensi diikuti oleh rebound dalam waktu relatif singkat.
(pta)