Harga Minyak Anjlok 3 Persen usai Sinyal Ketegangan AS-Iran Mereda

CNN Indonesia
Senin, 02 Feb 2026 11:28 WIB
Harga minyak dunia turun 3 persen pada Senin (2/2) seiring sinyal meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. (Foto: iStock/zorazhuang)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia turun sekitar 3 persen pada perdagangan Senin (2/2) seiring munculnya sinyal meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Presiden AS Donald Trump menyebut tengah serius berbicara dengan negara anggota OPEC itu dan memicu harapan de-eskalasi konflik.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$2 atau 2,9 persen ke level US$67,28 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga merosot US$2 atau 3,1 persen ke posisi US$63,17 per barel.

Kedua kontrak tersebut berbalik melemah tajam dari sesi sebelumnya. Pada perdagangan terakhir, Brent sempat menyentuh level tertinggi enam bulan, sementara WTI mendekati posisi tertinggi sejak akhir September di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.

Sebelumnya, Trump beberapa kali mengancam akan melakukan intervensi terhadap Iran jika negara itu tidak menyepakati kesepakatan nuklir atau gagal menghentikan aksi kekerasan terhadap para pengunjuk rasa. Namun, pada akhir pekan lalu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Iran kini 'serius berbicara' dengan Washington.

Pernyataan itu disampaikan beberapa jam setelah pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, mengungkapkan melalui platform X bahwa pengaturan untuk negosiasi tengah disiapkan. Trump pun berharap pembicaraan tersebut dapat menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima semua pihak tanpa kepemilikan senjata nuklir.

Komentar Trump, ditambah laporan bahwa angkatan laut Garda Revolusi Iran tidak berencana menggelar latihan tembak langsung di Selat Hormuz, dinilai sebagai tanda de-eskalasi.

Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan pasar minyak menafsirkan perkembangan tersebut sebagai langkah positif menjauh dari konfrontasi.

"Pasar minyak mentah melihat ini sebagai langkah mundur yang menggembirakan dari potensi konflik, sehingga mengurangi premi risiko geopolitik yang sempat terbangun dalam reli harga pekan lalu dan memicu aksi ambil untung," ujar Sycamore.

Di sisi lain, OPEC+ pada pertemuan Minggu (1/2) sepakat mempertahankan tingkat produksi minyak untuk Maret. Pada November lalu, kelompok tersebut juga membekukan rencana kenaikan produksi untuk periode Januari hingga Maret 2026 karena konsumsi musiman yang lebih lemah.

Capital Economics menilai risiko geopolitik masih menutupi kondisi fundamental pasar minyak yang cenderung bearish. Dalam catatan tertanggal 30 Januari, lembaga itu menyebut pasar minyak yang di suplai dengan baik, serta pengalaman konflik singkat tahun lalu masih berpotensi menekan harga Brent hingga akhir 2026.

(ldy/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK