Mendag Bantah Daging Mahal Imbas Dominansi Kuota Impor BUMN
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membantah anggapan tingginya harga daging sapi di pasar disebabkan pengaturan kuota impor yang memberikan porsi lebih besar kepada badan usaha milik negara (BUMN).
Ia menegaskan pasokan daging aman dan tidak ada penahanan stok di lapangan.
Sebagai informasi, pemerintah menetapkan kuota impor daging sapi tahun ini melalui Neraca Komoditas (NK) 2026 dengan porsi terbesar diberikan kepada BUMN, yakni sekitar 250 ribu ton. Sementara itu, alokasi impor untuk pelaku usaha swasta ditetapkan sekitar 30 ribu ton.
Di tengah pengaturan kuota tersebut, muncul keluhan pedagang yang menyebut harga daging masih mahal dan dikaitkan dengan dominasi impor oleh BUMN. Menanggapi hal itu, Budi menegaskan kebijakan kuota tidak berdampak pada kelangkaan pasokan di pasar.
"Kalau saya cek tadi, harga daging rata-rata nasional sekarang di kisaran Rp141 sampai Rp142 ribu per kilogram (kg). HET-nya kan Rp140 ribu. Jadi enggak ada itu yang ditahan-tahan," ujar Budi di Shangri-La Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (3/2).
Ia menjelaskan impor daging sapi tetap dilakukan baik oleh swasta maupun BUMN. Perizinan impor yang diterbitkan sejak Januari, kata dia, sebagian sudah terealisasi dan masuk ke pasar. Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan BUMN agar realisasi impor berjalan sesuai rencana.
"Kita kemarin juga sudah ketemu BUMN, sekarang sedang merealisasikan (impor daging sapi). Jadi enggak ada yang penting ditahan," katanya.
Budi menambahkan pemerintah telah menggelar rapat koordinasi dengan dinas daerah dan para distributor untuk memastikan distribusi daging berjalan lancar menjelang Ramadan dan Lebaran. Pada prinsipnya, seluruh pihak siap memasok kebutuhan pasar.
"Ya, kita jaga terus supaya distribusi berjalan baik dan pasokan tercukupi," ujarnya.
Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), daging sapi kualitas 1 dan kualitas 2 tercatat berada di level Rp200 ribu per kilogram.
Selain daging sapi, Budi juga membantah anggapan harga minyak goreng merek Minyakita masih mahal. Ia menegaskan harga minyak goreng rakyat itu saat ini justru mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
"Minyakita sudah turun. Sekarang Rp16.300 (per liter), sebelumnya Rp16.800," kata Budi.
Data harga harian menunjukkan Minyakita saat ini berada di kisaran Rp16.200 per liter, turun sekitar 0,61 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Menurut Budi, Minyakita merupakan minyak goreng yang masuk skema Domestic Market Obligation (DMO) dan dijual dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter.
Ia menilai Minyakita kerap dijadikan indikator tunggal kenaikan harga minyak goreng, padahal di pasar tersedia berbagai jenis minyak goreng lain, termasuk merek sekunder dan premium.
"Minyakita itu minyak DMO dan pakai HET. Kalau Minyakita naik, kesannya harga minyak naik semua. Padahal minyak di pasar itu banyak," ujarnya.
Budi juga menegaskan penurunan ekspor tidak serta-merta berarti pasokan minyak goreng di dalam negeri berkurang.
"Bukan berarti enggak ada minyak. Minyak itu banyak di pasar," katanya.
(del/ins)