Harga Minyak Melesat 1 Persen Imbas Ketegangan AS-Iran Meningkat

CNN Indonesia
Rabu, 04 Feb 2026 11:11 WIB
Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Rabu (4/2), melanjutkan kenaikan sehari sebelumnya ke level US$67,98 atau setara dengan Rp1,1 juta per barel. (FOTO:Arsip Pertamina).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (4/2), seiring meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi ketegangan di Timur Tengah setelah insiden antara Amerika Serikat dan Iran.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah militer AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang disebut mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln secara agresif di Laut Arab.

Melansir Reuters, minyak mentah Brent naik 65 sen atau sekitar 1 persen ke level US$67,98 per barel.

Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 69 sen atau 1,1 persen menjadi US$63,90 per barel. Kedua acuan tersebut tercatat naik hampir 2 persen pada perdagangan Selasa (3/2).

Sejumlah kapal bersenjata Iran dilaporkan mendekati sebuah kapal tanker berbendera AS di Selat Hormuz, wilayah strategis yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Informasi tersebut disampaikan sumber maritim dan sebuah konsultan keamanan.

Di sisi diplomatik, Iran dilaporkan menuntut agar perundingan dengan AS pekan ini digelar di Oman, bukan Turki, serta membatasi pembahasan hanya pada isu nuklir. Permintaan tersebut memunculkan keraguan atas kelanjutan agenda pertemuan tersebut.

"Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah memberikan dukungan bagi pasar minyak," ujar analis komoditas Rakuten Securities, Satoru Yoshida.

Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak bagi negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, terutama menuju pasar Asia. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan Iran menjadi produsen minyak mentah terbesar ketiga OPEC pada 2025.

Harga minyak juga mendapat sentimen positif dari data industri yang menunjukkan penurunan tajam persediaan minyak mentah AS. Stok minyak mentah dilaporkan turun lebih dari 11 juta barel pekan lalu, berdasarkan data American Petroleum Institute (API).

Data resmi EIA dijadwalkan rilis Rabu waktu setempat, dengan analis sebelumnya memperkirakan kenaikan persediaan.

Selain itu, pasar juga merespons positif kesepakatan perdagangan antara AS dan India yang dinilai dapat mendorong permintaan energi global. Di sisi lain, konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung menambah kekhawatiran terhadap berlanjutnya sanksi terhadap minyak Rusia.

Yoshida memperkirakan harga WTI akan bergerak di kisaran US$65 per barel dalam waktu dekat.

(lau/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK