Tepis Sentimen Moody's, BI Pede Laju Kredit 8-12 Persen Tahun Ini
Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan kredit tahun ini masih di kisaran 8-12 persen meski Moody's memangkas outlook utang Pemerintah Indonesia dari stabil ke negatif.
Artinya, masih ada peluang pertumbuhan kredit lebih tinggi dari tahun lalu, 9,69 persen.
"Outlook kredit masih 8-12 persen karena semua variabel dan indikator lainnya masih menunjukkan hal-hal yang membuat kita bertahan di bilangan proyeksi itu," ujar Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Alexander Lubis dalam forum Editors Briefing BI di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo, Alexander mengungkapkan penyesuaian outlook itu tak mencerminkan fundamental perekonomian Indonesia yang dinilai tetap solid.
Kinerja solid itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,39 persen kuartal IV 2025, sehingga laju secara keseluruhan 5,1 persen tahun lalu. Inflasi juga masih terjaga sebesar 2,9 persen dan berada di kisaran sasaran.
Tahun ini, sambung Alexander, kebijakan makroprudensial BI diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth) dengan mendorong penyaluran kredit di tengah suku bunga acuan yang cenderung menurun.
"Masih sangat tinggi peluang untuk kredit terakselerasi di tengah kita mempertahankan stance pro growth pada era low interest environment," ujarnya.
Salah satu bentuk dukungan bank sentral adalah dengan menerapkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang diberikan melalui pengurangan giro wajib minimum (GWM) perbankan.
Kebijakan itu dijalankan untuk mendorong kredit/pembiayaan perbankan di sektor prioritas, mulai dari hilirisasi, pangan, UMKM, hingga proyek ramah lingkungan.
Bank sentral menerapkan KLM kepada bank yang mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan melalui penyaluran kredit/pembiayaan (lending channel) dan/atau penetapan suku bunga kredit baru/persentase imbalan pembiayaan baru yang sejalan dengan arah kebijakan BI (interest rate channel).
Pada lending channel, besaran KLM atas penyaluran kredit atau pembiayaan ke sektor prioritas didasarkan pada laporan komitmen yang disampaikan bank dengan memperhatikan faktor penyesuaian.
Sementara, pada interest rate channel, besaran KLM diberikan atas dasar perhitungan elastisitas penurunan suku bunga kredit baru/ persentase imbalan pembiayaan baru bank.
Semakin besar porsi penyaluran kredit ke sektor prioritas dan/atau semakin cepat bank menurunkan suku bunga mengikuti BI maka besaran pengurangan GWM yang diterima bank terkait akan semakin besar.
Per Januari 2026, KLM yang diterima bank sebesar Rp397,9 triliun atau setara 4,55 persen terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK).
Dari sisi permintaan, penyaluran kredit perbankan juga didukung oleh beragam program pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis hingga Koperasi Desa Merah Putih.
Moody's mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif.
Dalam laporannya, lembaga pemeringkat internasional itu menyatakan bahwa afirmasi rating Indonesia pada Baa2 mencerminkan ketahanan ekonomi yang tetap kuat.
Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang stabil dan solid, serta didukung oleh kekuatan struktural termasuk sumber daya alam dan demografi yang menguntungkan, yang menopang prospek pertumbuhan jangka menengah.
Sementara itu, revisi outlook dipengaruhi oleh pandangan Moody's itu akan risiko dari penurunan kepastian kebijakan, yang apabila berlanjut dapat berimplikasi terhadap kinerja perekonomian.
(sfr)