Tiru India, BEI Bakal Buka Data Kepemilikan Saham di Atas 1 Persen

CNN Indonesia
Senin, 09 Feb 2026 13:33 WIB
BEI bakal menetapkan ambang batas pelaporan kepemilikan saham diturunkan dari 5 persen ke 1 persen, seperti India yang karakteristik investornya mirip RI.
BEI bakal menetapkan ambang batas pelaporan kepemilikan saham diturunkan dari 5 persen ke 1 persen, seperti India yang karakteristik investornya mirip RI. (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal menetapkan ambang batas pelaporan kepemilikan saham menjadi 1 persen, mengikuti best practice di berbagai bursa global.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan penetapan keterbukaan data kepemilikan saham di atas 1 persen tersebut merupakan hasil perbandingan struktur pasar modal di negara lain, yang memiliki karakteristik investor serupa dengan Indonesia, yakni India.

"Terkait dengan kenapa 1 persen, kenapa tidak angka lain, tentu ini kita juga me-refer kepada best practice yang ada di beberapa bursa di dunia. Kalau kita melihat yang menggunakan angka 1 persen adalah India," ujar Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin (9/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rencana keterbukaan data pemilik saham tersebut merupakan salah satu pembahasan utama dalam pertemuan dengan penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Masukan terkait peningkatan transparansi pasar juga datang dari investor asing. CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani pernah mengungkapkan investor global mendorong agar ambang batas pelaporan kepemilikan saham diturunkan dari 5 persen menjadi 1 persen.

"Kalau sekarang yang perlu dibuka investornya itu kalau di atas 5 persen. Nah, mereka bilang kalau bisa itu diturunkan,tidak hanya dibatas 5 persen. Karena di beberapa negara seperti India itu 1 persen, yang lain 2 persen," kata Rosan di BEI, Minggu (1/2).

Menurut Rosan, ambang batas 5 persen dinilai masih terlalu tinggi dan berpotensi membuka ruang pembentukan harga saham yang tidak wajar.

"Karena aksi untuk penciptaan harga yang semu akan menjadi sangat-sangat sulit, karena investornya akan terbuka. Jadi kalau mereka melakukan tindakan itu pasti akan terdeteksi. Nah, itu salah satu masukan dari investor luar yang saya terima," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(fln/pta)