Siapa Saja Pihak yang Bisa Terlibat Praktik Saham Gorengan?
Praktik saham gorengan kian mendapat perhatian publik setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok baru-baru ini.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat terdapat 32 kasus pidana yang terindikasi manipulasi perdagangan saham dalam rentang tahun 2022 sampai Januari 2026 yang sedang diproses penegak hukum.
Saham gorengan adalah sebutan untuk saham yang harganya naik dan turun secara tidak wajar yang merugikan investor. Ini terjadi imbas rekayasa sejumlah pihak, yang kerap disebut pemain atau bandar.
Hal ini tentu membuat banyak investor ketar-ketir, terutama yang baru mau masuk ke pasar saham.
Lantas, siapa saja sih pihak-pihak yang bisa terlibat di belakang praktik saham gorengan?
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita mengatakan praktik saham gorengan merupakan aksi kolektif dan terstruktur sehingga melibatkan beberapa lapisan pelaku.
"Kalau kita bicara saham gorengan, hampir pasti bukan kerja satu aktor. Ini praktik kolektif dan terstruktur, melibatkan beberapa lapisan pelaku," ujar Ronny saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (10/2).
Ronny menerangkan terdapat lima pihak yang berpotensi sebagai pelaku praktik saham gorengan.
Pertama, aktor internal atau "sponsor saham" yang biasanya merupakan pemilik lama, pengendali, atau pihak yang mempunyai kedekatan dengan manajemen emiten. Menurutnya, mereka sangat paham dengan struktur kepemilikan, likuiditas saham, dan timing informasi.
"Tanpa 'restu' atau minimal pembiaran dari level ini, goreng saham sulit terjadi. Ibarat masak rendang, dapurnya harus dibuka dulu," terangnya.
Kedua, bandar atau operator pasar, yakni pihak yang mempunyai modal besar dan kemampuan teknis dalam mengatur antrean transaksi.
Ronny menilai modus yang dilakukan pihak ini klasik, tetapi efektif, seperti marking the close (rekayasa harga di penutupan perdagangan), wash sale (transaksi semu agar tampak ramai), dan spoofing (antrean palsu untuk menipu arah pasar). Selain itu, pengaturan volume semu agar saham tampak likuid dan "hidup".
Lihat Juga : |
"Harga naik bukan karena fundamental, tapi karena direkayasa," kata Ronny.
Ketiga, jaringan promotor atau influencer pasar yang saat ini menggunakan pola yang semakin modern.
Ronny menjelaskan dahulu promotor menggunakan grup tertutup, sekarang melalui media sosial, seperti telegram dan discord.
"Narasinya dibuat seolah ada 'cerita besar', seperti mau rights issue, proyek strategis, atau investor asing masuk. Padahal, sering kali itu hanya storytelling tanpa neraca. Ini yang bikin investor ritel FOMO (fear of missing out)," ungkapnya.
Lihat Juga : |
Keempat, investor ritel yang tidak sadar atau setengah sadar. Ronny mengungkapkan sebagian memang menjadi korban, tetapi ada pula yang sengaja ikut masuk saat harga masih bergerak naik dengan harapan dapat keluar lebih cepat.
"Masalahnya, dalam gorengan, selalu ada yang jadi pemegang saham terakhir. Dan itu biasanya bukan bandarnya. Dan merekalah yang akan menjadi korban terakhir dan terparah," ujar Ronny.
Dari sisi modus, menurut Ronny, pola saham gorengan sebenarnya berulang. Mulai dari akumulasi pelan di harga rendah dan sepi, lalu harga dan volume dinaikkan bertahap, kemudian pembangunan narasi positif yang disebar secara masif.
Setelah itu, terdapat lonjakan tajam yang menarik investor ritel, lalu distribusi besar-besaran sehingga harga jatuh.
"Yang perlu dicatat, ini bukan sekadar soal keserakahan individu, tapi juga soal literasi pasar dan pengawasan. Pasar modal idealnya tempat alokasi modal produktif, bukan arena zero-sum game ala kasino," tutupnya.
Cara Basmi Saham Gorengan
Terpisah, Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan untuk membasmi praktik goreng saham diperlukan kombinasi deteksi dini, pembatasan cepat, dan penegakan yang tegas.
Syafruddin menyampaikan Bursa Efek Indonesia (BEI) harus agresif mengumumkan aktivitas tidak biasa suatu saham (Unusual Market Activity) dan suspensi sehingga bisa memutus eskalasi dan memberi ruang verifikasi.
Selain itu, menurutnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga harus mempercepat investigasi berbasis jejak transaksi, keterkaitan rekening, sanksi administratif, sampai pidana yang benar-benar menjatuhi pelaku transaksi semu atau manipulatif.
"Pasar juga bisa mengurangi ruang goreng dengan mendorong kualitas keterbukaan emiten dan menertibkan promosi 'cuan cepat' yang tidak berbasis fakta material," ujar Syafruddin kepada CNNIndonesia.com, Senin (10/2).
Menurut Syafruddin, investor ritel juga perlu turut menjaga pasar dengan fokus pada saham dengan likuiditas wajar dan keterbukaan jelas, curigai lonjakan harga-volume tanpa berita resmi, batasi porsi pada saham berisiko tinggi. Kemudian, tetapkan disiplin cut loss dan hentikan keputusan yang didorong FOMO.
"Sikap itu menurunkan insentif ekonomi tukang goreng karena gorengan hidup dari arus masuk yang mudah dipancing dan sulit dikendalikan saat panik," pungkasnya.
(sfr/sfr)