Mendag Bantah MBG Jadi Penyebab Harga Ayam Naik
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membantah kemungkinan permintaan ayam untuk kebutuhan Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi penyebab utama kenaikan harga komoditas tersebut.
Budi menjelaskan secara umum pergerakan harga suatu komoditas dipengaruhi oleh permintaan, di mana saat permintaan meningkat harga komoditas cenderung akan meningkat. Sebaliknya, saat permintaan turun maka harga komoditas terkait cenderung lebih murah.
"Justru sekarang ketika permintaan itu grafiknya begini (meningkat), ada kepastian, justru produksi itu ngikutin (naik) ya linear gitu, ngikutin permintaan. Sehingga harga malah cenderung stabil," katanya saat ditemui di kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Rabu (18/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mendag juga memastikan bahwa secara keseluruhan pergerakan harga komoditas cenderung baik, menyusul koordinasi Mendag bersama pelaku usaha dan UMKM. Mereka mengklaim produksi terus mengalami peningkatan seiring kepastian permintaan.
"Coba lihat apakah banyak (permintaan) terus tiba-tiba harga melonjak karena MBG? Kan nggak ada," jelas pria yang akrab disapa Busan tersebut.
Sebelumnya, harga ayam dikabarkan tembus Rp45 ribu per Kg di sejumlah daerah. Mendag mengataka rata-rata harga daging ayam nasional mengacu Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2K) masih di kisaran Rp40.259 per Kg.
Dengan begitu dia menyampaikan harga daging ayam ada yang sampai Rp45 ribu per Kg, tetapi ada juga yang di bawah Rp40 ribu per Kg.
"Jadi bukan berarti rata-rata nasionalnya Rp45 ribu. Tapi yang harga mahal tadi, Rp45 ribu per Kg ya tetap kita cek. Kita cek terus kenapa dia mahal, mungkin pasokannya kurang atau memang pasar itu tiba-tiba kebutuhannya meningkat. Kita pastikan jangan sampai mahal. Semua kita usahakan sesuai harga acuan atau HET," ujar Mendag.
Kemendag juga menyampaikan kepada pelaku usaha untuk memastikan distribusi ke daerah yang harganya tinggi harus diperhatikan.
"Biasanya kalau mendekati Lebaran, permintaan menjadi meningkat. Tapi kita minta diantisipasi, meskipun Lebaran atau Nataru, pasokan harus terjaga. Jadi ketika permintaan melonjak, ya tetap harus harga stabil," tandasnya.
(fln/ins)