Harga Minyak Dunia Merosot, Pasar Cermati Arah Ketegangan AS-Iran
Harga minyak mentah dunia jatuh pada perdagangan Kamis (19/2), setelah melonjak lebih dari 4 persen sehari sebelumnya.
Investor kini mencermati perkembangan hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di tengah meningkatnya aktivitas militer di kawasan produsen minyak utama tersebut.
Mengutip Reuters, harga minyak kontrak berjangka Brent turun 12 sen atau 0,2 persen ke level US$70,23 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 8 sen atau 0,1 persen menjadi US$65,11 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sehari sebelumnya, kedua acuan harga tersebut ditutup melonjak lebih dari 4 persen dan mencatatkan level penutupan tertinggi sejak 30 Januari. Kenaikan itu terjadi setelah pelaku pasar memperhitungkan potensi gangguan pasokan akibat kekhawatiran konflik antara Washington dan Teheran.
Kepala Strategi Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa mengatakan ketegangan antara kedua negara masih tinggi. Namun, pasar menilai konflik bersenjata skala penuh kecil kemungkinannya terjadi sehingga investor mengambil sikap tunggu dan lihat.
"Ketegangan antara Washington dan Teheran tetap tinggi, tetapi pandangan yang berkembang adalah konflik bersenjata penuh tidak mungkin terjadi, sehingga memicu pendekatan wait-and-see," ujar Kikukawa.
Ia menambahkan Presiden AS Donald Trump tidak menginginkan lonjakan tajam harga minyak mentah. Menurutnya, jika aksi militer terjadi, kemungkinan hanya berupa serangan udara jangka pendek.
Dari jalur diplomasi, Gedung Putih menyebut ada sedikit kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran di Jenewa pekan ini. Meski demikian, sejumlah isu masih belum menemukan titik temu dan Teheran diharapkan kembali membawa rincian lebih lanjut dalam beberapa pekan mendatang.
Di sisi lain, Iran mengeluarkan pemberitahuan kepada penerbang (NOTAM) terkait rencana peluncuran roket di wilayah selatannya pada Kamis pukul 03.30 hingga 13.30 waktu setempat, menurut situs Administrasi Penerbangan Federal AS. Pada saat yang sama, Negeri Paman Sam dilaporkan mengerahkan kapal perang di dekat Iran.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Washington tengah mempertimbangkan apakah akan melanjutkan jalur diplomasi dengan Teheran atau memilih 'opsi lain'. Pernyataan itu menambah ketidakpastian arah kebijakan AS terhadap Iran.
Citra satelit juga menunjukkan Iran baru-baru ini membangun pelindung beton di atas fasilitas baru di lokasi militer sensitif dan menutupinya dengan tanah. Para ahli menyebut langkah itu sebagai kelanjutan pekerjaan di lokasi yang dilaporkan pernah dibom Israel pada 2024.
Sementara itu, faktor geopolitik lain turut membayangi pasar. Pembicaraan damai selama dua hari antara Ukraina dan Rusia di Jenewa berakhir tanpa terobosan, dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menuduh Moskow mengulur upaya mediasi yang dimotori AS.
(ldy/pta)