KKP Prediksi Konsumsi Ikan Naik hingga 20 Persen saat Ramadan

CNN Indonesia
Kamis, 19 Feb 2026 20:28 WIB
KKP memprediksi konsumsi ikan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri 2026 meningkat sekitar 10-20 persen dibanding bulan biasa. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memprediksi konsumsi ikan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri 2026 meningkat sekitar 10-20 persen dibanding bulan biasa.

Peningkatan permintaan tersebut dinilai masih dapat diimbangi dengan pasokan yang cukup sehingga tidak memicu lonjakan harga yang signifikan.

Plt Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Machmud mengatakan kenaikan konsumsi ikan pada periode Ramadan merupakan pola tahunan yang dipengaruhi peningkatan permintaan masyarakat.

"Menurut survei kami, kenaikannya 10-20 persen dari bulan biasa. Untuk kebutuhan Januari-Maret sekitar 1,94 juta ton, maka di bulan Ramadan dan Idulfitri itu kemungkinan sekitar 700 ribuan ton," ujar Machmud dalam konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Kamis (19/2).

Ia menjelaskan kenaikan harga ikan menjelang Ramadan lebih dipengaruhi mekanisme permintaan dan pasokan. Jika stok terbatas sementara permintaan meningkat, harga cenderung naik, namun secara umum kenaikan harga masih relatif terkendali.

Menurut Machmud, harga ikan budidaya seperti lele dan nila relatif stabil, masing-masing berada di kisaran Rp25 ribu-Rp26 ribu dan sekitar Rp28 ribu per kilogram. Sementara fluktuasi harga lebih sering terjadi pada ikan tangkap yang dipengaruhi musim dan hasil tangkapan.

Dalam kesempatan sama, Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya TB Haeru Rahayu menyampaikan produksi perikanan budidaya pada awal 2026 diproyeksikan tetap tumbuh positif dengan rata-rata peningkatan sekitar 19,09 persen.

Sejumlah komoditas seperti kerapu meningkat 11,32 persen, kakap dan lobster naik sekitar 12,27 persen, serta udang tumbuh 3,63 persen. Produksi ikan nila juga meningkat 10,24 persen.

Namun, produksi ikan mas mengalami penurunan sekitar 4,11 persen akibat tingginya curah hujan sepanjang 2025 yang memengaruhi budidaya di sejumlah wilayah.

"Ikan mas menjadi penurunan minus 4,11 persen. Catatan kenapa ikan mas ini sedikit minus, karena kami sounding di lapangan, ini salah satunya disebabkan jumlah hujan yang cukup tinggi pada 2025," kata Haeru.

Ia menambahkan curah hujan ekstrem di beberapa daerah, termasuk wilayah sentra budidaya seperti Karawang, memengaruhi produktivitas ikan mas. Meski demikian, komoditas lain seperti nila dinilai lebih tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan.

KKP menilai kondisi produksi secara keseluruhan tetap mencukupi kebutuhan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri. Dari sisi harga, kenaikan komoditas perikanan diperkirakan berada pada kisaran 0,25-1,39 persen sehingga dinilai tidak memicu tekanan inflasi yang signifikan.

Sementara itu, Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP) Ishartini memastikan produk ikan yang beredar di pasar tidak mengandung bahan berbahaya seperti formalin.

"Selama (pengawasan) yang sudah kami lakukan, memang tidak ada produk-produk yang ditemukan mengandung formalin," kata Ishartini.

Ia menegaskan KKP secara rutin melakukan pengawasan dan sosialisasi kepada pedagang serta pemasok agar tidak menggunakan bahan berbahaya. Jika ditemukan pelanggaran, produk akan langsung ditarik dari peredaran dan penjual dapat dikenai sanksi tegas.

"Sudah sering kami di KKP ini melakukan sosialisasi kepada para pedagang, para supplier dan sebagainya untuk tidak boleh lagi menggunakan hal itu." tegasnya.

Menurutnya, KKP pernah menarik produk ikan dari pasar di Jawa Tengah setelah ditemukan pelanggaran, bahkan izin penjualan dapat dicabut apabila pelaku usaha tidak mematuhi ketentuan keamanan pangan.

"Memang apabila ini ditemukan, pernah terjadi di satu tempat ya di Jawa Tengah, kami komunikasi, koordinasi dengan pemda sebagai penanggung jawab dari pasar tradisional, produk itu ditarik dan tidak boleh lagi diperdagangkan," jelas Ishartini.

(del/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK