Strategi Jasa Marga Hadapi 3,6 Juta Kendaraan Mudik Keluar Jabodetabek
PT Jasa Marga (Persero) Tbk menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi 3,6 juta kendaraan yang diperkirakan meninggalkan wilayah Jabodetabek selama periode mudik Lebaran 2026.
Strategi itu mulai dari rekayasa lalu lintas berlapis, pengoperasian tol fungsional, hingga pemanfaatan teknologi pemantauan berbasis kamera dan sensor.
Direktur Utama Jasa Marga Rivan Achmad Purwantono mengatakan prediksi 3,6 juta kendaraan itu disusun berdasarkan analisis data kamera yang dikelola perusahaan dan ditingkatkan dengan sistem intelligent traffic analysis, serta dikomparasikan dengan radar dan tren historis Lebaran maupun Natal dan Tahun Baru.
"Prediksi ini dengan kematangan media yang kita gunakan adalah satu kamera yang kita kelola sendiri, yang kita tingkatkan menggunakan intelligent traffic analysis, jadi jumlahnya akurat. Kemudian dikomparasikan dengan radar yang tersebar juga, dan dilihat dari trendnya," kata Rivan dalam program CNN Indonesia Newsroom, Jumat (20/2).
Berikut strategi yang disiapkan Jasa Marga untuk menjaga kelancaran arus mudik Lebaran 2026:
1. Rekayasa Lalu Lintas Berbasis Skenario
Perusahaan, jelas Rivan, memetakan sejumlah titik krusial yang berpotensi mengalami kepadatan, terutama di ruas Jakarta-Cikampek pada KM 47 hingga KM 70, termasuk titik pertemuan jalur layang MBZ dan jalur bawah.
Untuk mengurai potensi kemacetan, perusahaan menyiapkan skema contraflow hingga dua lajur dan opsi one way, baik parsial maupun total, bergantung pada peningkatan volume kendaraan di lapangan.
"Bahkan kalau memang visi rasionya sudah melebih batas rata-rata, itu harus dilakukan sampai dengan kontraflow 2 lajur maupun sampai dengan one way," ujarnya.
Menurutnya, pengambilan keputusan tidak dilakukan secara reaktif, melainkan melalui simulasi Tactical Floor Game yang melibatkan Kementerian Perhubungan dan Korlantas Polri. Dalam simulasi itu, skenario Plan A, B, hingga C telah di-mapping untuk berbagai kemungkinan, termasuk lonjakan ekstrem.
Lihat Juga : |
2. Tambah Kapasitas Lewat Tol Fungsional
Selain rekayasa lalu lintas, Jasa Marga juga menyiapkan pengoperasian sejumlah ruas tol fungsional yang akan dibuka tanpa tarif selama periode mudik.
Beberapa ruas tersebut difungsikan untuk memecah kepadatan di koridor Trans Jawa, termasuk jalur alternatif bagi kendaraan dari arah Bandung yang hendak kembali ke wilayah JORR 2 tanpa harus melalui titik padat Cikampek.
Di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ruas fungsional juga disiapkan untuk mengurai kepadatan di sekitar Bawen dan Ambarawa, serta memperlancar arus menuju Yogyakarta dan sekitarnya.
Sementara di Jawa Timur, seksi tol baru disiapkan untuk mendukung kelancaran kendaraan menuju Banyuwangi dan Situbondo.
3. Pengawasan Ketat Truk dan Keselamatan
Strategi lain yang disiapkan adalah pembatasan operasional kendaraan sumbu tiga ke atas selama periode mudik sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB). Kebijakan ini, kata Rivan, bukan untuk melarang distribusi logistik, melainkan menjaga keselamatan pemudik di tengah lonjakan volume kendaraan.
Ia mengungkapkan, secara populasi truk hanya sekitar 12 persen dari total kendaraan di ruas tol Jasa Marga, namun menyumbang 84 persen penyebab kecelakaan. Sepanjang 2025, tercatat 277 insiden gerbang tol ditabrak kendaraan overdimension dan overload (ODOL).
Untuk itu, perusahaan mengandalkan teknologi weight in motion, kamera, serta sensor lidar guna mendeteksi pelanggaran muatan dan dimensi kendaraan secara otomatis.
"Dengan menggunakan teknologi yang kami miliki, baik dengan menggunakan weight in motion, kemudian memotret kameranya adalah sebutnya sebagai pembuktian gitu. Bahwa masih banyak yang lewat dan sebagainya bisa digunakan sebagai bagian dari ngambil keputusan," ujar Rivan.
4. 3.000 CCTV dan Aplikasi Pemantau
Di sisi operasional, Jasa Marga mengoptimalkan Jasa Marga Tollroad Command Center (JMTC) yang mengendalikan sekitar 3.000 kamera CCTV di seluruh ruas tol yang dikelola grup. Sistem tersebut dilengkapi radar, early warning system, hingga sensor ketinggian air untuk mengantisipasi potensi banjir.
"JMTC ini mengendalikan 3.000 kamera dan kemudian kamera ini juga sudah beberapa yang sudah menggunakan ITE," ujar Rivan.
Informasi kondisi lalu lintas juga disalurkan melalui dynamic message sign (DMS) di sepanjang jalan tol serta aplikasi Travoy yang memungkinkan pengguna memantau kepadatan dan CCTV secara real time.
Rivan mengimbau masyarakat merencanakan perjalanan dengan matang, memastikan kendaraan dalam kondisi laik jalan, serta memanfaatkan informasi lalu lintas sebelum berangkat.
"Untuk itu, semua perjalanan direncanakan dengan baik. Aturi, Taati aturan yang ada, dan kemudian, akan kembali juga dengan bahagia, selamat, dan sehat," pungkasnya.
(lau/sfr)