Serangan AS-Israel ke Iran Guncang Pasar, BI Jaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah pasca-serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, yang mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan pihaknya akan memantau pergerakan di pasar, termasuk memastikan nilai tukar rupiah tetap bergerak sesuai fundamentalnya.
"Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya," kata Erwin dalam keterangan tertulis, Senin (2/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia memastikan BI akan tetap hadir di pasar melalui intervensi, baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
"BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga," ujar Erwin.
Konflik Timur Tengah kali ini dimulai pada Sabtu (28/2). Serangan AS dan Israel ke Teheran pada pagi hari itu menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Selain Ayatollah Ali Khamenei, anak perempuan dia, menantunya, serta cucunya turut tewas dalam serangan ini. Imbas serangan tersebut, 201 orang tewas dan lebih dari 700 jiwa mengalami luka-luka.
Kemudian, ada juga Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami dan Komandan Angkatan Bersenjata Korps Iran (IRGC) Mohammed Pakpour yang menjadi korban.
Meski sudah memporak-porandakan Iran, AS dan Israel menyatakan akan terus melakukan serangan besar-besaran ke negara Timur Tengah ini hingga rezim berganti.
Pemerintahan Trump dan Netanyahu disebut menargetkan 30 pemimpin Iran, termasuk presiden dan kepala militer.
(lau, dhz/pta)