CNN INDONESIA ECONOMIC FORUM

Airlangga Sebut RI Lebih Untung dari India di Deal Dagang dengan AS

CNN Indonesia
Senin, 02 Mar 2026 14:04 WIB
Menko Perekonomian Airlangga mengatakan jika dirata-ratakan, tarif yang dikenakan AS ke RI sekitar 6 hingga 6,5 persen.
Menko Perekonomian Airlangga mengatakan jika dirata-ratakan, tarif yang dikenakan AS ke RI sekitar 6 hingga 6,5 persen. (Foto: CNN Indonesia/Anugerah Perkasa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan Indonesia memperoleh kesepakatan yang lebih menguntungkan dibanding India dalam Agreement on Reciprocal Tariff (ART) dengan Amerika Serikat (AS).

Hal itu disampaikan Airlangga dalam keynote speech di Indonesia Economic Forum 2026 bertajuk "Global in Flux and The Road Ahead" yang digelar CNN Indonesia, Senin (2/3).

Menurut Airlangga, Indonesia mendapatkan sekitar 1.900 pos tarif dengan bea masuk 0 persen. Jika dirata-ratakan, tarif yang dikenakan kepada Indonesia berada di kisaran 6 hingga 6,5 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Indonesia mendapat better deal dibandingkan India, karena kita ada 1.900 pos tarif yang dapat 0 persen. Kalau diambil rata-rata, seluruh tarif kita hanya sekitar 6 sampai 6,5 persen," ujar Airlangga.

Ia menjelaskan, sejumlah komoditas yang diberikan tarif 0 persen oleh Indonesia kepada AS pada dasarnya memang sudah 0 persen sebelumnya, seperti gandum dan kedelai. Begitu pula impor energi senilai US$15 miliar per tahun yang disebutnya lebih bersifat pengalihan sumber pasokan.

Kesepakatan ART diteken pada 19 Februari lalu, sebelum adanya putusan Mahkamah Agung AS yang turut memengaruhi kebijakan tarif. Airlangga menyebut momentum tersebut sangat tepat karena Indonesia menjadi negara terakhir yang menandatangani perjanjian sebelum dinamika hukum di AS berubah.

Ia juga menyinggung pertemuan Presiden RI dengan Presiden AS yang menurutnya berlangsung di luar agenda resmi, namun menghasilkan komitmen strategis kedua negara.

"Judul kerja samanya menuju golden age Indonesia dan Amerika," katanya.

Di tengah kesepakatan tersebut, pemerintah juga mengantisipasi risiko eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global.

Airlangga menyebut harga minyak WTI saat ini berada di level US$73 per barel, sedikit di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel, namun masih relatif terkendali.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah mendorong percepatan realisasi nota kesepahaman antara Pertamina dan sejumlah perusahaan migas asal AS seperti Chevron dan ExxonMobil untuk memperkuat diversifikasi pasokan energi.

Di sisi domestik, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Konsumsi rumah tangga berkontribusi 54 persen terhadap PDB, rasio utang di bawah 30 persen, dan cadangan devisa mencapai US$154,6 miliar.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun ini minimal 5,5 persen, didorong stimulus Ramadan dan Idulfitri seperti diskon transportasi, bantuan pangan untuk 35,04 juta keluarga, serta pencairan THR.

"Bantalan ekonomi kita relatif kuat. Dengan berbagai stimulus ini, kita harapkan kuartal pertama bisa kita genjot," ujarnya.

Airlangga menambahkan, strategi jangka menengah difokuskan pada ketahanan energi, hilirisasi, deregulasi struktural, serta percepatan berbagai perjanjian dagang internasional guna memperkuat posisi Indonesia di panggung global.

[Gambas:Video CNN]

(lau/pta)