CNN INDONESIA ECONOMIC FORUM

Airlangga Bantah Deal Dagang Cuma Untungkan AS: Indonesia Kompetitif

CNN Indonesia
Senin, 02 Mar 2026 14:59 WIB
Airlangga menegaskan kesepakatan dagang dengan AS justru lahir karena posisi Indonesia yang kuat dalam neraca perdagangan dengan Negeri Paman Sam.
Airlangga menegaskan kesepakatan dagang dengan AS justru lahir karena posisi Indonesia yang kuat dalam neraca perdagangan dengan Negeri Paman Sam. (Foto: CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membantah anggapan bahwa Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) sarat konsesi sepihak untuk Washington.

Dalam diskusi di Indonesia Economic Forum 2026 yang digelar CNN Indonesia, Senin (2/3), Airlangga menegaskan kesepakatan itu justru lahir karena posisi Indonesia yang kuat dalam neraca perdagangan dengan Negeri Paman Sam.

"ART ini ada karena Indonesia kompetitif. Indonesia kan menang dagang sama Amerika," ujar Airlangga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan nilai perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat mencapai sekitar US$40 miliar. Dari angka tersebut, Indonesia mencatat surplus signifikan. Menurut perhitungan pemerintah Indonesia, surplus berada di kisaran US$17 miliar, sementara versi Amerika Serikat menyebut angkanya sekitar US$19 miliar.

Airlangga mengatakan kondisi surplus tersebut menjadi latar belakang munculnya tekanan dari Amerika Serikat agar neraca perdagangan dibuat lebih seimbang. Karena itu, pemerintah mengambil langkah negosiasi untuk menciptakan skema yang disebutnya sebagai win-win solution.

"Kalau tidak ada rencana pembelian dari Amerika Serikat, kita positif 19 persen. Dan tahun kemarin 2025 walaupun ada embargo, ada kenaikan dan sebagainya. Ekspor kita juga tetap naik 12 persen. Nah ini yang membuat Amerika merasa bahwa Indonesia menikmati pasar Amerika. Tetapi Amerika tidak menikmati pasar Indonesia. Nah oleh karena itu dibuat win-win solution termasuk terkait dengan tarif," katanya.

Ia menegaskan sejumlah tarif nol persen yang diberikan Indonesia kepada AS bukanlah kebijakan baru. Beberapa komoditas seperti gandum dan kedelai memang sejak lama sudah dikenakan tarif 0 persen.

Selain itu, pembelian energi dari Amerika Serikat juga disebut bukan penambahan volume impor, melainkan pengalihan sumber pasokan yang selama ini sudah berjalan secara bisnis ke bisnis.

Airlangga juga menepis kekhawatiran bahwa kesepakatan ART akan membuat Indonesia kehilangan daya saing atau mendorong relokasi industri ke negara lain seperti Vietnam.

Menurutnya, kebijakan tarif yang diberikan kepada Amerika Serikat sejatinya sejalan dengan perlakuan yang telah lebih dulu diberikan Indonesia kepada negara lain, termasuk China melalui skema kerja sama perdagangan yang sudah berjalan lebih dari dua dekade.

"Tarif yang diberikan ke Amerika itu sama dengan yang kita berikan kepada China. China malah kita berikan 20 tahun yang lalu. Nah Eropa baru akan kita berikan sesudah ratifikasi. Jadi ini sebetulnya sesuatu yang kita sudah berikan ke berbagai negara," ujarnya.

Ia menambahkan Indonesia telah menjalin berbagai perjanjian dagang dengan banyak blok ekonomi, mulai dari negara-negara Eropa, Jepang, Korea Selatan, hingga kemitraan kawasan Asia Pasifik. Amerika Serikat, kata dia, justru menjadi salah satu negara terakhir yang menandatangani kesepakatan serupa dengan Indonesia.

[Gambas:Video CNN]

(lau/pta)