Qatar, Saudi hingga Israel Setop Produksi Gas dan Minyak Imbas Perang

tim | CNN Indonesia
Senin, 02 Mar 2026 21:15 WIB
Perang Iran melawan AS dan Israel memicu penghentian operasional sebagai langkah pencegahan di fasilitas minyak dan gas di seluruh Timur Tengah.
Perang Iran melawan AS dan Israel memicu penghentian operasional sebagai langkah pencegahan di fasilitas minyak dan gas di seluruh Timur Tengah. Ilustrasi. (Foto: IAN TIMBERLAKE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah negara di kawasan Timur Tengah menyetop produksi gas dan menutup kilang minyak pada Senin (2/3) di tengah memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

Qatar menghentikan operasional produksi gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG). Sementara Arab Saudi dilaporkan juga telah menutup kilang minyak terbesar milik mereka menyusul serangan drone.

Sumber Reuters menyebutkan konflik ini telah memicu penghentian operasional sebagai langkah pencegahan di fasilitas minyak dan gas di seluruh Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Gelombang serangan di kawasan tersebut memasuki hari ketiga, mengakibatkan sebagian besar produksi minyak di Irak Kurdistan dihentikan, serta beberapa ladang gas utama Israel ditutup, sehingga menghambat ekspor ke Mesir," ujar sumber tersebut.

Harga minyak tercatat melonjak 13 persen menjadi di atas US$82 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025.

Konflik ini hampir menghentikan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.

Perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, juga telah menutup kilang Ras Tanura berkapasitas 550 ribu barel per hari (bph) sebagai langkah pencegahan. Kilang tersebut merupakan bagian dari kompleks energi di pesisir teluk yang juga menjadi terminal ekspor penting bagi minyak mentah Arab Saudi.

Di Irak, sejumlah perusahaan termasuk DNO, Gulf Keystone Petroleum, Dana Gas, dan HKN Energy telah menghentikan produksi di ladang mereka sebagai langkah antisipatif, tanpa dilaporkan adanya kerusakan.

Sedangkan di lepas pantai Israel, pemerintah Israel menginstruksikan Chevron untuk sementara menutup ladang gas raksasa Leviathan.

Perusahaan tersebut diketahui sedang dalam proses ekspansi kapasitas menjadi sekitar 21 miliar meter kubik per tahun sebagai bagian dari kesepakatan ekspor senilai 35 miliar dolar AS ke Mesir.

Juru bicara Chevron, yang juga mengoperasikan ladang gas Tamar di lepas pantai Israel, mengatakan fasilitasnya dalam kondisi aman.

"Perusahaan Energean menutup kapal produksi yang melayani ladang gas berukuran lebih kecil," tulis Reuters dalam laporannya.

Di Iran, ledakan terdengar pada Sabtu di Pulau Kharg, yang memproses 90 persen ekspor minyak mentah Iran. Belum jelas bagaimana dampak serangan tersebut terhadap fasilitas yang ada.

Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang memproduksi sekitar 4,5 persen pasokan minyak global.

Produksi Iran mencapai sekitar 3,3 juta barel minyak mentah per hari, ditambah 1,3 juta barel per hari kondensat dan cairan lainnya.

Pemerintah Qatar menyatakan fasilitas energi milik raksasa gas Qatar Energy diserang dua drone Iran pada Senin, dan otoritas masih menilai tingkat kerusakan yang terjadi.

[Gambas:Video CNN]

(dhz/pta)