Harga Minyak Turun usai AS-Iran Sepakat Lanjutkan Perundingan Nuklir
Harga minyak dunia turun pada perdagangan Jumat (27/2), dan bersiap mencatat penurunan mingguan setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat memperpanjang perundingan. Perkembangan tersebut meredakan kekhawatiran pasar atas potensi konflik yang dapat mengganggu pasokan minyak global.
Mnegutip Reuters, harga minyak kontrak berjangka Brent turun 28 sen atau 0,4 persen menjadi US$70,47 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 29 sen atau 0,44 persen ke level US$64,92 per barel.
Secara mingguan, Brent berada di jalur penurunan sekitar 1,8 persen, sedangkan WTI berpotensi merosot sekitar 2,2 persen. Pelemahan ini memangkas sebagian penguatan yang terjadi pada pekan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Jenewa pada Kamis (26/2) lalu guna membahas sengketa nuklir yang telah berlangsung lama. Dialog tersebut dilakukan untuk menghindari eskalasi konflik setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengerahan militer tambahan di kawasan Timur Tengah.
Selama perundingan berlangsung, harga minyak sempat melonjak lebih dari US$1 per barel setelah laporan media menyebut diskusi menemui jalan buntu. Kebuntuan dipicu desakan Washington agar Iran menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium serta menyerahkan seluruh uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen kepada AS.
Namun, harga kembali melemah setelah mediator dari Oman menyatakan kedua pihak mencatat kemajuan dalam pembicaraan. Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi menyampaikan bahwa negosiasi akan dilanjutkan dengan pembahasan tingkat teknis di Wina pada pekan depan.
Analis ANZ Daniel Hynes mengatakan perpanjangan pembicaraan sempat meredakan kekhawatiran atas kemungkinan aksi militer AS dalam waktu dekat. Meski demikian, ia menilai waktu yang tersedia untuk mencapai kesepakatan relatif sempit menjelang tenggat yang ditetapkan Presiden Trump pada 1-6 Maret.
Pasar kini akan mencermati perkembangan lanjutan negosiasi tersebut sebagai faktor utama penentu arah harga minyak dalam jangka pendek, terutama terkait potensi gangguan pasokan dari salah satu produsen utama anggota OPEC itu.
(ldy/ins)