Freeport Konsisten Dorong Hilirisasi Untuk Kemandirian Industri
PT Freeport Indonesia (PTFI) terus menunjukkan komitmennya untuk mendukung pembangunan ekosistem pertambangan yang bernilai tambah tinggi dan pro-rakyat.
Pembangunan smelter tembaga dan fasilitas pemurnian lainnya bukan sekadar
memenuhi kewajiban, melainkan bagian strategi nasional menuju kemandirian industri bahan mineral.
Salah satu wujud konkretnya adalah pengoperasian smelter tembaga single line di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Proyek senilai sekitar Rp43 triliun tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya Indonesia memperkuat rantai nilai industri mineral di dalam negeri.
Smelter dengan kapasitas pengolahan mencapai 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun tersebut telah memasuki tahap produksi perdana. Melalui fasilitas ini, Freeport mampu menghasilkan sekitar 600 ribu ton katoda tembaga setiap tahun, yang menjadi bahan utama untuk industri kabel, otomotif, dan energi baru terbarukan.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menegaskan bahwa proyek ini
bukan hanya investasi jangka panjang, melainkan juga langkah strategis untuk menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
"Hilirisasi tembaga menjadi fondasi penting bagi kemandirian industri Indonesia.
Dengan beroperasinya smelter Gresik, kita tidak hanya mengekspor bahan mentah,
tetapi juga produk olahan bernilai tinggi," ujarnya seperti dikutip dari CNBC Indonesia.
Pembangunan smelter ini juga menciptakan lebih dari 12.000 lapangan kerja, dengan
sekitar 60% tenaga kerja berasal dari Jawa Timur dan Papua. Kehadiran proyek tersebut mendorong peningkatan aktivitas ekonomi lokal, termasuk tumbuhnya sektor
logistik, jasa konstruksi, dan UMKM di sekitar kawasan industri.
Dalam Laporan Akhir Membangun Kemitraan antara Masyarakat, Pemerintah Daerah, dan Perusahaan untuk Optimalisasi Manfaat Hilirisasi yang diterbitkan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) pada 2024, Smelter Gresik
menunjukkan keberhasilan model kemitraan yang melibatkan enam aktor, yakni perusahaan, pemerintah daerah, masyarakat, akademisi, media, dan LSM, yang dikenal sebagai pendekatan hexa-helix.
Salah satu mekanisme yang diangkat ialah forum 'Rembuk Akur' yang terbuka bagi
warga dari sembilan desa Ring 1 di sekitar kawasan industri untuk terlibat dalam
rekrutmen tenaga kerja PTFI.
Lebih jauh, riset tersebut mencatat bahwa pelibatan UMKM lokal tak hanya sebatas
penyedia jasa katering atau logistik, tetapi sudah masuk ke sentra-IKM seperti industri
songkok dan mesin logam di Gresik, membangun rantai pasok yang inklusif sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
"Dengan kemitraan strategis, pelaku UMKM dapat mengambil peran lebih besar dalam
rantai pasok industri, yang pada akhirnya memperkuat ekosistem ekonomi lokal," tulis Hendi Subandi, peneliti utama dalam laporan tersebut.
Di samping manfaat ekonomi, Freeport juga mengembangkan program pelatihan vokasi
untuk menyiapkan tenaga kerja industri masa depan. Pelatihan tersebut difokuskan
pada bidang teknologi pengolahan logam dan keselamatan kerja, bekerja sama dengan lembaga pendidikan lokal dan mitra industri.
Smelter Gresik menandai babak baru bagi industri tembaga nasional. Keberhasilan ini
diharapkan menjadi model hilirisasi yang mampu mendorong tumbuhnya industri
turunan di dalam negeri, seperti produksi komponen listrik dan material kendaraan
listrik.
Tony menambahkan, Freeport berkomitmen menjaga keberlanjutan operasi dengan
menerapkan standar lingkungan yang ketat.
"Kami memastikan setiap proses produksi dilakukan secara efisien dan ramah
lingkungan. Tujuan utama kami adalah menciptakan manfaat ekonomi sekaligus
menjaga keseimbangan sosial dan ekologis," pungkas dia.
Dengan mulai beroperasinya smelter di Gresik, Indonesia menegaskan posisinya
sebagai salah satu pemain utama dalam rantai pasok global industri tembaga. Upaya hilirisasi ini diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi jangka panjang, sekaligus memperkuat fondasi kemandirian industri nasional.