Dibayangi Perang Iran, Seberapa Kuat Fondasi Ekonomi RI Jegal Krisis?
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara melihat risiko besar justru pada ruang fiskal dan ketahanan energi.
"Ketahanan Indonesia dari sisi stok BBM cuma 20 hari, dari sisi fiskal defisitnya sudah hampir tembus 3 persen. Begitu harga minyak naik dan pasokan terganggu, tekanan ke APBN dan stok BBM menghitung hari," ujarnya.
Ia juga menyoroti rapuhnya daya beli masyarakat. Tabungan dengan nominal kecil mengalami kontraksi. Ada juga pergeseran dari deposito ke giro. Perpindahan ini menunjukkan kecenderungan deposan mencari aman untuk menarik uang secara fleksibel ketika situasi ekonomi memburuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi pasar keuangan, Bhima memproyeksikan tekanan lanjutan pada rupiah. Mata uang Garuda bisa amblas ke Rp17.500 dalam waktu dekat. Devisa hanya didukung dari penerbitan utang valas, tapi akan berkurang untuk stabilisasi kurs.
Tidak hanya itu, ia juga menilai Indonesia relatif lebih rentan dibanding beberapa negara ASEAN lain.
"Indonesia saat ini jadi negara yang rentan di ASEAN, dibanding Malaysia dan Vietnam, baik secara pertumbuhan ekonomi maupun ketahanan struktural," tegasnya.
Untuk meredam tekanan fiskal, Bhima menilai pemerintah perlu bergerak cepat menyesuaikan postur anggaran. Ia mendorong revisi APBN 2026 disertai realokasi belanja sejumlah program agar ruang subsidi energi lebih memadai di tengah lonjakan harga minyak.
"Saran saya ada revisi APBN 2026 secepatnya, termasuk realokasi MBG dan Kopdes Merah Putih ke tambahan anggaran subsidi energi. Pastikan juga pembayaran kompensasi ke PLN dan Pertamina tepat waktu, sehingga BUMN bisa mitigasi dengan cashflow yang sehat," katanya.
Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengingatkan kondisi domestik memang sudah kurang sehat sebelum konflik memanas. Indikatornya, fiskal lemah, rupiah tertekan, pasar modal punya masalah pengelolaan. Ia memperkirakan dampak perang Timur Tengah akan menjalar dari pasar keuangan ke sektor riil melalui kenaikan biaya dana.
"Pasar modal akan semakin melemah, rupiah semakin tertekan, industri keuangan akan melambat akibat cost of fund dan risiko yang meningkat, dan sektor riil melambat akibat cost of fund yang meningkat," katanya.
Meski begitu, ia mengakui ada sisi positif dari struktur ekonomi Indonesia yang relatif berbasis domestik. Namun dari sisi fiskal, ia menilai Indonesia termasuk paling tertekan di kawasan.
"Ekonomi kita relatif domestic focus, tidak terlalu banyak perdagangan internasional," ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Wijayanto menekankan pentingnya menjaga inflasi agar tidak melonjak akibat kenaikan harga BBM.
"Memastikan harga BBM tidak melejit sehingga menimbulkan inflasi tinggi, kita harus ingat daya beli masyarakat masih terpuruk dan kita menghadapi moment Lebaran di mana inflasi relatif lebih tinggi," katanya.
Ia juga mendorong perbaikan profil APBN dan kebijakan yang lebih predictable agar pelaku usaha tidak menahan ekspansi.
"Pemerintah perlu memperbaiki profil APBN, dengan melakukan pemangkasan program-program mahal, seperti MBG dan Kopdes Merah Putih. Pastikan defisit terjaga. Kemudian, kebijakan pemerintah perlu lebih predictable dan realistis. Iklim bisnis perlu diperbaiki secara serius agar swast tidak ketakutan menjalankan bisnis," pungkasnya.
(pta)