RI Krisis Insinyur, Kebutuhan Tenaga Teknik Masih Kurang 45 Persen
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan Indonesia masih kekurangan tenaga insinyur (engineer).
Saat ini, jumlah insinyur di Indonesia tercatat kurang lebih 700 ribu orang. Airlangga menyebut Indonesia masih membutuhkan tambahan sekitar 45 persen insinyur untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Secara spesifik, kebutuhan insinyur di sektor semikonduktor diperkirakan mencapai 15 ribu orang. Sementara untuk bidang digital, Indonesia memerlukan sekitar 150 ribu insinyur dalam kurun waktu satu hingga enam tahun ke depan.
Ia mengatakan Kementerian Ketenagakerjaan telah mendorong program pendidikan vokasional guna melakukan pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling).
Menurut Airlangga, sekitar 47 persen insinyur di Indonesia membutuhkan reskilling dan upskilling untuk menjawab tuntutan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Airlangga memaparkan, keterampilan masa depan terbagi ke dalam tiga bidang utama. Pertama, keterampilan kognitif yang berfokus pada kemampuan berpikir analitis, kreatif, dan sistematis.
Kedua, keterampilan teknologi yang berfokus pada AI, analisis big data, serta keahlian keamanan siber berkelas dunia. Ketiga, keterampilan engagement yang berfokus pada manajemen dan pemasaran melalui integrasi teknologi yang mulus.
"Kemudian dengan program yang kemarin di London ditandatangani antara Danantara dan Arm (British Semiconductor Company, red) itu disiapkan pelatihan untuk 150 ribu engineers kepada ekosistem Arm," kata Airlangga usai acara World Engineering Day for Sustainable Development 2026 di Jakarta Selatan, Rabu (4/3).
"Jadi kita sekarang lebih spesifik lagi mencari kebutuhan engineers untuk industri-industri yang didorong oleh pemerintah," imbuhnya.
Dalam kesempatan sama, Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ilham Akbar Habibie menyebut rasio insinyur Indonesia masih rendah. Dari sekitar 700 ribu insinyur, rasionya hanya sekitar 2.500 per 1 juta penduduk.
Ilham membandingkan dengan Vietnam yang memiliki rasio sekitar 9.000 insinyur per 1 juta penduduk. Apalagi jika dibandingkan dengan China, angkanya jauh lebih timpang.
"Jadi kita kurang. Kita ada sejuta penduduk, (rasionya) hanya 2.500-an saja. Mestinya minimal kayak Vietnam lah 10.000, jadi kali 4," kata Ilham.
(dhz/pta)