Airlangga Sikapi Santai Langkah Fitch Ratings Pangkas Outlook Utang RI

CNN Indonesia
Kamis, 05 Mar 2026 17:45 WIB
Menurut Airlangga, perubahan outlook tersebut terjadi di tengah kondisi perekonomian global yang sedang menghadapi ketidakpastian. (FOTO:ANTARA/FAUZAN).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi santai keputusan lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings yang memangkas outlook atau prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Menurut Airlangga, perubahan outlook tersebut terjadi di tengah kondisi perekonomian global yang sedang menghadapi ketidakpastian, terutama akibat konflik di Timur Tengah.

"Jadi memang dunia ini outlook-nya lagi diperkirakan akan banyak perubahan dengan perkembangan di Timur Tengah," katanya di Menara Batavia, Jakarta Pusat, Kamis (5/3).

Airlangga tidak begitu ambil pusing karena Fitch masih tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level BBB, yang berarti masih dalam kategori layak investasi (investment grade).

Meski demikian, ia tetap akan mempelajari sejumlah catatan yang disampaikan Fitch sebagai bahan evaluasi ke depan.

"Ke depan tentu apa yang menjadi warning Fitch itu kita pelajari. Itu untuk mengingatkan Indonesia apa yang harus kita pelajari ke depan," ujar Airlangga.

Ia menyebut salah satu aspek yang menjadi perhatian dirinya adalah sisi penerimaan negara.

Dari segi penerimaan, Airlangga mengatakan sistem administrasi perpajakan Coretax sudah didorong oleh Kementerian Keuangan. Sistem ini akan dikawal terus agar rasio pajak Indonesia bisa meningkat.

Adapun dalam laporan Fitch, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga disinggung. Lembaga tersebut memproyeksikan defisit anggaran 2026 sebesar 2,9 persen PDB, lebih tinggi dari target pemerintah 2,7 persen.

Tekanan belanja diperkirakan meningkat, termasuk untuk program makan bergizi gratis (MBG) yang nilainya diperkirakan mencapai 1,3 persen PDB.

Menanggapi hal itu, Airlangga menegaskan program MBG merupakan investasi jangka panjang.

Ia merujuk pada studi yang dilakukan oleh World Bank dan Rockefeller Foundation yang menyebut setiap investasi 1 dolar di MBG dapat menghasilkan hingga 7 dolar.

"Jadi itu adalah sebuah investasi dan banyak negara melakukan itu. Amerika pun melakukan itu. Ini adalah tantangan long term dan medium term yang tidak bisa kita menghilangkan long term hanya untuk short term," ucap Airlangga.

Selain itu, Fitch juga mencatat potensi risiko dari investasi di luar anggaran melalui sovereign wealth fund Danantara yang berencana menggelontorkan dana sebesar US$26 miliar atau sekitar 1,7 persen PDB tahun ini.

Perluasan mandat ke aktivitas kuasi-fiskal berbasis utang dinilai dapat mengurangi transparansi fiskal serta meningkatkan risiko kewajiban kontinjensi bagi pemerintah.

Airlangga menilai kekhawatiran tersebut muncul karena Danantara merupakan lembaga baru, sehingga belum sepenuhnya dikenal.

"Danantara kan sesuatu organisasi yang sovereign wealth fund yang baru. Tentu belum semuanya kan kenal. Jadi, track record-nya diperlukan. Oleh karena itu, perhatian itu menjadi catatan," kata Airlangga.

(dhz/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK