Purbaya Sebut Perang Timur Tengah Bisa Tambah Beban Impor Migas RI

CNN Indonesia
Kamis, 12 Mar 2026 07:55 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan beban impor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan beban impor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia. (CNN Indonesia/Dela Naufalia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan beban impor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran disebut telah mengganggu pasokan energi global, terutama setelah adanya ancaman penutupan Selat Hormuz.

Menurut Purbaya, penutupan Selat Hormuz mengganggu suplai energi global dan memicu lonjakan harga komoditas terutama minyak. Harga minyak Brent disebut menembus US$108 per barel. Ini merupakan level tertinggi dalam 15 bulan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Purbaya menjelaskan ketidakpastian global saat ini juga tercermin dari meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan internasional.

"Ditandai volatilisasi tinggi pada indeks pasar baik VIX maupun MOVE, pergeseran investor ke aset safe heaven, penguatan indeks dolar AS, DXY, serta kenaikan yield US Treasury yang 10 Tahun," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (11/3).

Bagi Indonesia, ia mengatakan dampaknya ditransmisikan ke beberapa jalur yang harus diwaspadai.

"Dari jalur perdagangan, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban impor migas dan menekan surplus neraca perdagangan dan neraca pembayaran," ujar Purbaya.

Lalu, dari jalur pasar keuangan, ketidakpastian global bisa memicu capital outflow, tekanan pada pasar saham, obligasi, nilai tukar rupiah serta dapat meningkatkan cost of fund.

Dari jalur fiskal, Purbaya mengatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan berfungsi sebagai peredam gejolak (shock absorber).

Meski demikian, APBN tetap menghadapi potensi kenaikan subsidi energi serta beban bunga utang.

Di sisi lain, pemerintah juga berpotensi memperoleh tambahan penerimaan dari lonjakan harga komoditas seperti batu bara, nikel, dan minyak sawit mentah (CPO).

Ia memastikan pemerintah terus memantau perkembangan ini secara ketat dan memastikan instrumen APBN bekerja secara responsif dan mengedepankan disiplin fiskal.

Pengambilan kebijakan juga akan dilakukan secara terukur guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.

Harga minyak mentah dunia diprediksi bisa mencapai US$150 per barel jika perang di Timur Tengah meluas dan berkepanjangan.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi lonjakan harga minyak bisa terjadi jika Selat Hormuz terganggu dan pasar mulai percaya bahwa gangguan pasokan akan bertahan lama imbas konflik antara Iran melawan AS-Israel itu.

"Angka US$150 (per barel) bukan mustahil secara teknis," ujar Syafruddin kepada CNNIndonesia.com, Selasa (10/3).

Syafruddin mengingatkan harga minyak mentah dunia pada 2008 melonjak sangat tinggi saat pasar dikuasai rasa takut, dolar melemah, dan pasokan dipersepsikan terancam.

Namun, pada gonjang ganjing harga minyak dunia saat ini, pasar saham energi belum ikut melonjak seagresif harga minyak.

Merujuk laporan Reuters, Syafruddin menyebut saham perusahaan minyak besar hanya naik tipis walau harga minyak melonjak tajam. Ini dinilai menjadi sinyal bahwa investor belum yakin lonjakan ini akan bertahan panjang.

Pasar disebut masih membaca gangguan pasokan sebagai tekanan jangka pendek, bukan perubahan rezim harga permanen.

"Peluang (harga minyak) US$150 (per barel) tetap ada, tetapi syaratnya berat," ujar Syafruddin.

Syarat yang berat itu seperti konflik harus memburuk, distribusi energi harus benar-benar lumpuh, dan pasar harus kehilangan keyakinan bahwa keadaan akan cepat pulih.

Tanpa syarat-syarat itu terpenuhi, harga US$100-120 dolar lebih masuk akal sebagai zona tekanan yang serius. Di atas level ini, permintaan global juga mulai terancam melemah, dan pelemahan permintaan sering menjadi rem alami bagi reli minyak.

[Gambas:Video CNN]

(dhz/sfr)