Tak Lagi Pakai Monyet, Kementan Uji Alat Panjat Kelapa Buatan Kampus

CNN Indonesia
Jumat, 13 Mar 2026 03:45 WIB
Kementan mulai menguji coba alat panjat kelapa buatan perguruan tinggi sebagai alternatif pemanenan kelapa tanpa menggunakan monyet. Ilustrasi. (iStock/Gokcemim).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Pertanian (Kementan) mulai menguji coba alat panjat kelapa buatan perguruan tinggi sebagai alternatif pemanenan kelapa tanpa menggunakan monyet.

Teknologi tersebut disiapkan untuk membantu petani memanen kelapa dengan lebih aman sekaligus meningkatkan produktivitas.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah telah meminta pengadaan awal alat tersebut untuk diuji coba di lapangan.

Ia menjelaskan alat itu merupakan inovasi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang dirancang untuk memudahkan proses panen kelapa tanpa melibatkan hewan.

Menurut Amran, Kementan telah memesan 10 unit alat panjat kelapa tersebut untuk uji coba awal. Ia menyebut teknologi itu diharapkan dapat menggantikan metode lama yang terkadang menggunakan monyet untuk memetik kelapa.

"Yang pertama dari ITS, ada alat panjat kelapa. Ada alat panjat, jadi tidak menggunakan lagi monyet, tapi ada alat baru, kami langsung minta 10 unit uji coba," kata Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Kamis (12/3).

Ia menilai penggunaan alat mekanis juga dapat mengurangi risiko kerja bagi petani. Pekerjaan memanjat pohon kelapa secara manual, menurutnya, memiliki tingkat bahaya yang cukup tinggi karena ketinggian pohon dan kondisi angin di bagian atas.

"Oh iya (alat pertanian nanti akan diperbanyak). Itu berisiko orang panjat. Saya dulu kerja, aku panjat kelapa. Kalau kelapa, kita naik (pohon), belum ada angin. Begitu di atas, ada angin. Kita berdoa di atas, semua doa-doa keluar," ujarnya.

Selain alat panjat kelapa, Kementan juga mulai membeli sejumlah inovasi teknologi lain hasil riset kampus untuk mendukung aktivitas pertanian. Amran mengatakan pemerintah memilih langsung membeli teknologi yang dinilai siap digunakan petani.

"Kami ada sudah MoU (tanda tangan nota kesepahaman) dan banyak penemuan-penemuan baru dari kampus. Kami langsung membeli. Jadi ini aksi nyata. Bukan kita hanya dalam khayalan, tapi kita langsung beli langsung sesuai kebutuhan petani Indonesia," ujarnya.

Salah satu teknologi lain yang dibeli pemerintah adalah mesin pengering jagung (dryer) portable hasil riset dosen dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Mesin tersebut dirancang agar dapat digunakan langsung di area pertanian dan mudah dipindahkan ke lokasi panen.

"Dari ITB ada dryer jagung, tadi ada empat unit, kami langsung minta dibeli. Ini portable, ini bisa keliling ke petani-petani di tengah-tengah sawah, di tengah-tengah kebun jagung," ujar Amran.

Mesin pengering tersebut bersifat mobile sehingga dapat dibawa langsung ke lokasi panen, berbeda dengan mesin pengering konvensional yang biasanya berada di satu lokasi tetap.

Penggunaan monyet untuk memanen kelapa merupakan praktik lama yang dikenal di beberapa wilayah Asia Tenggara, terutama di Thailand dan Malaysia, serta pernah ditemukan di sebagian wilayah Indonesia. Hewan tersebut dilatih untuk memanjat pohon kelapa dan memutar buah hingga terlepas dari tangkainya.

Di Indonesia, praktik ini pernah dijumpai di beberapa daerah penghasil kelapa, seperti wilayah pesisir Sumatra dan Sulawesi, meskipun penggunaannya tidak merata dan kini semakin jarang ditemukan.

Seiring perkembangan teknologi pertanian, metode pemanenan mulai beralih ke alat bantu mekanis yang dinilai lebih aman dan efisien.

(del/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK