RESEARCH INSIGHT: Ramadan saat Perang Bergolak, Inflasi akan Menggila?

Intan Nirmala Sari | CNN Indonesia
Jumat, 13 Mar 2026 09:00 WIB
Kenaikan harga pangan sudah menjadi 'tradisi' saat Ramadan. Tahun ini, risiko tekanan terhadap harga juga berasal dari eskalasi konflik di Timur Tengah.
Indonesia memiliki pola inflasi unik, di mana awal Ramadan tren kenaikan harga cenderung lunak, kemudian memuncak jelang Hari Raya. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya).

Di luar momentum Ramadan dan Lebaran, angka inflasi secara bulanan Tanah Air berada di kisaran 0,22 persen mtm. Sedangkan inflasi akhir tahun cenderung di level 0,4 persen mtm.

Untuk Maret 2026, Analisis LPEM FEB UI menilai inflasi tahunan bakal menurun ke kisaran 3,07 persen sampai 3,51 persen (yoy) seiring memudarnya low-base effect. Secara bulanan, inflasi diperkirakan berada pada kisaran 0,01 persen hingga sampai 0,44 persen (mtm).

Meski demikian, proyeksi ini tetap menghadapi upside risks, terutama dari peningkatan permintaan pangan selama Ramadan, kenaikan tarif transportasi untuk mobilitas perayaan dan libur Idulfitri, serta dampak dari penyesuaian harga BBM non-subsidi per 1 Maret 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Risiko inflasi yang lebih tinggi juga dapat datang dari kenaikan harga minyak dunia di tengah konflik Timur Tengah, yang berpotensi memengaruhi biaya energi domestik," tulis analisis tersebut.

Adapun program pembangunan pemerintah, termasuk proyek hilirisasi dan pembangunan rumah, dapat menambah tekanan harga secara bertahap apabila akselerasi implementasinya mulai lebih terasa pada awal tahun ini.

Inflasi Unik Ramadan di Indonesia

Dalam lima tahun terakhir, tren inflasi Ramadan di beberapa negara mayoritas muslim menunjukkan pola yang cukup beragam. Jika inflasi sebelumnya didominasi aktivitas belanja pakaian, ongkos mudik dan kenaikan harga pangan, kali ini justru berbeda.

Perbedaan kondisi inflasi Ramadan periode 2021-2025 yakni karena dibumbui kondisi krisis global. Hal ini membuat tren inflasi di mayoritas negara muslim berbeda.

Secara garis besar, tren inflasi Ramadan di sejumlah negara bisa terbagi ke dalam tiga kategori, yakni negara dengan daya tahan inflasi tinggi, terkendali hingga krisis dan gejolak moneter.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) masuk ke dalam kategori negara dengan tingkat daya tahan inflasi tinggi. 

Kategori Tren Inflasi Ramadan di Negara Muslim Dunia 5 Tahun TerakhirKategori Tren Inflasi Ramadan di Negara Muslim Dunia 5 Tahun Terakhir. (Alya Hendrahmi/CNNIndonesia).

Artinya, meskipun tren inflasi Ramadan di negara tersebut tinggi, itu dapat diimbangi oleh kebijakan pemerintah. Salah satunya dengan memberikan subsidi hingga mengontrol kenaikan harga.

Menariknya, penyebab inflasi di negara Arab dan UEA lebih dikarenakan sektor jasa. Di antaranya kenaikan harga tiket pesawat hingga tarif hotel, imbas lonjakan ibadah umrah selama Ramadan.

Kategori selanjutnya ada Indonesia dan Malaysia yang dinilai memiliki inflasi terkendali. Untuk Indonesia memiliki pola inflasi unik, di mana awal Ramadan tren kenaikan harga cenderung lunak, kemudian memuncak jelang Hari Raya.

Terakhir ada Mesir, Turki dan Pakistan yang masuk dalam kategori krisis dan gejolak moneter. Ketiga negara tersebut masuk dalam kelompok menderita, lantaran inflasi bukan berasal dari kenaikan permintaan bahan pangan, tetapi juga ambruknya mata uang negara dan ketergantungan terhadap impor.

Adapun level inflasinya berada di rentang 30 persen hingga 70 persen dalam lima tahun terakhir.

(sfr) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2