ANALISIS

Rupiah Tembus Rp17 Ribu, Ancaman Inflasi hingga Utang Jumbo Mengintai

Lidya Julita Sembiring | CNN Indonesia
Selasa, 17 Mar 2026 07:40 WIB
Jatuhnya rupiah ke level Rp17 ribu bukan sekadar gejolak pasar. Dampaknya bisa meluas ke inflasi hingga tumpukan utang jika pelemahan kurs tak direm. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah kemarin sempat menembus level Rp17 ribu meski akhirnya turun ke Rp16.997 per dolar AS pada penutupan perdagangan, Senin (16/3) sore. Jatuhnya kurs rupiah ke Rp17 ribu kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Pasalnya, amblasnya rupiah ini dinilai tidak hanya mencerminkan gejolak pasar, tetapi juga dapat membawa dampak luas terhadap inflasi, daya beli masyarakat, hingga beban fiskal pemerintah.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita mengatakan pelemahan rupiah sebenarnya memberikan efek campuran bagi perekonomian nasional.

Di satu sisi, sektor yang berorientasi ekspor seperti komoditas sawit, batu bara, hingga sebagian industri manufaktur dapat memperoleh keuntungan. Penerimaan dalam dolar akan meningkat ketika dikonversi ke rupiah.

Namun di sisi lain, banyak industri domestik masih bergantung pada bahan baku impor sehingga pelemahan rupiah justru menaikkan biaya produksi.

"Pelemahan rupiah ke kisaran Rp17 ribu per dolar memberi efek campuran terhadap ekonomi Indonesia," kata Ronny kepada CNNIndonesia.com.

Menurut Ronny, dampak yang lebih luas justru datang dari sisi negatifnya. Rupiah yang melemah berpotensi mendorong imported inflation atau inflasi yang berasal dari barang impor. Harga energi, pangan impor, hingga bahan baku industri berpotensi meningkat jika kurs terus tertekan.

"Jika pelemahan berlangsung lama, tekanan akan muncul pada inflasi, biaya produksi, dan akhirnya daya beli masyarakat," imbuhnya.

Selain itu, pelemahan rupiah juga dinilai akan meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun korporasi dalam denominasi rupiah.

Ronny menilai jika kurs bertahan lama mendekati Rp17 ribu per dolar, efeknya bisa menekan stabilitas ekonomi domestik.

"Jika kurs mendekati Rp17 ribu dan bertahan lama, efeknya lebih condong menekan stabilitas ekonomi domestik, bukan sekadar fluktuasi pasar," ujarnya.

Ronny memandang pelemahan rupiah belakangan ini bukan hanya karena pecahnya perang di Timur Tengah. Konflik itu memang menjadi salah satu pemicu karena mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian pasar global. Namun, sentimen domestik turut andil mendorong depresiasi mata uang Garuda.

"Jadi, perang hanya pemicu tambahan, bukan penyebab tunggal. Biasanya pasar bergerak karena akumulasi faktor eksternal dan domestik," jelas Ronny.

Secara regional, ia mengatakan memang banyak mata uang Asia juga mengalami tekanan ketika dolar AS menguat. Apabila rupiah melemah lebih tajam dibandingkan mata uang negara lain di kawasan, pasar bisa menilai ada kerentanan tambahan dari sisi fundamental domestik.

"Jika rupiah melemah lebih cepat dibandingkan mata uang negara peers di Asia, pasar biasanya membaca adanya kerentanan domestik tambahan," ucapnya.

Ronny menyebutkan ada empat langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk menahan nilai tukar rupiah terus longsor. Pertama, menjaga kredibilitas fiskal. Sebab, pasar sangat sensitif terhadap sinyal pelebaran defisit atau ketidakjelasan arah APBN. Jika fiskal dianggap berisiko, tekanan terhadap rupiah akan meningkat.

Kedua, Kementerian Keuangan harus memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia. Intervensi pasar valas, pengelolaan likuiditas dolar, dan kebijakan suku bunga perlu diarahkan untuk menjaga stabilitas, bukan sekadar mempertahankan level tertentu. Ketiga, memperkuat pasokan devisa melalui optimalisasi ekspor, repatriasi devisa hasil ekspor, serta menjaga surplus perdagangan tetap kuat.

Keempat, pemerintah harus membuat kebijakan yang jelas. Sebab, pasar sering bereaksi bukan hanya pada data ekonomi, tetapi pada ketidakpastian kebijakan. Jika arah kebijakan pemerintah konsisten dan kredibel, tekanan terhadap rupiah biasanya lebih terkendali.

"Singkatnya, pelemahan rupiah ke Rp17 ribu tidak otomatis menjadi krisis, tetapi juga tidak bisa dianggap enteng. Jika dibiarkan tanpa respons kebijakan yang kuat, pelemahan kurs bisa dengan cepat menular ke inflasi, daya beli, dan stabilitas fiskal," pungkas Ronny.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah belakangan ini masih cukup wajar karena dipengaruhi faktor eksternal dan domestik secara bersamaan.

Menurutnya, kekhawatiran kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi membebani APBN serta rencana pelebaran defisit anggaran, menjadi salah satu sentimen yang menekan rupiah.

"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran kenaikan harga minyak yang akan membebani APBN," kata Lukman.

Lukman melihat investor juga menunggu hasil rapat kebijakan moneter BI, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, meski dengan sinyal kebijakan yang lebih longgar.

Dalam situasi seperti ini, Lukman menyarankan pemerintah mengambil langkah kebijakan secara simultan. Kemudian, program dengan anggaran besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) harus dikurangi.

"Selain intervensi, hendaknya pemerintah mengurangi pengeluaran paling tidak untuk sementara seperti MBG," ujarnya.

(pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK