Bagaimana Ekonom Melihat Ekonomi RI ke Depan?

CNN Indonesia
Rabu, 18 Mar 2026 04:45 WIB
Dalam survei, sebanyak 42 persen responden memperkirakan pertumbuhan ekonomi tidak akan berubah dalam tiga bulan ke depan.
Dalam survei, sebanyak 42 persen responden memperkirakan pertumbuhan ekonomi tidak akan berubah dalam tiga bulan ke depan. Ilustrasi (FOTO:CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) merilis Economic Experts Survey Semester I 2026, yang memandang kondisi ekonomi Tanah Air belum memiliki peningkatan.

Survei tersebut merupakan putaran ketiga yang diikuti oleh 85 ahli ekonomi setelah survei sebelumnya pada Maret dan Oktober 2025. Dalam ketiga putaran tersebut, para ahli ekonomi menilai belum ada peningkatan terhadap kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

Dalam survei tersebut, sebanyak 42 persen responden memperkirakan pertumbuhan ekonomi tidak akan berubah dalam tiga bulan ke depan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tingkat keyakinan para ahli berada di 7,47, menunjukkan ketidakpastian masih cukup tinggi. Rata-rata respons tercatat -0,11, sedikit membaik dari survei sebelumnya -0,13," tulis LPEM dalam survei tersebut.

Meski begitu, perubahan rata-rata respons masih sangat kecil sehingga prospek pertumbuhan ekonomi masih terlihat lesu.

Kemudian, sebanyak 67 persen responden menilai saat ini inflasi lebih tinggi dibandingkan tiga bulan lalu.

"Rata-rata penilaian mencapai +0,71, meningkat dari hasil survei sebelumnya +0,47. Kondisi ini perlu diwaspadai, karena kenaikan harga barangan dan jasa dapat menggerus daya beli masyarakat," terangnya.

Lebih lanjut, sebanyak 75 persen responden memperkirakan dalam tiga bulan ke depan tekanan inflasi akan meningkat.

"Rata-rata penilaian mencapai +0,91 dengan tingkat keyakinan 7,60, menunjukkan kekhawatiran yang menguat," jelas LPEM FEB UI.

Adapun sebagian ahli mengaitkan prospek ini dengan ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasokan global dan pasar energi sehingga mendorong kenaikan harga domestik.

Sementara itu, dari sisi lingkungan bisnis, sebanyak 45 persen menilai saat ini bisnis memburuk dibandingkan tiga bulan lalu.

"Rata-rata penilaian tercatat -0,67, lebih rendah dari survei sebelumnya -0,45, menandakan perbaikan yang sempat muncul tidak bertahan lama," ungkapnya.

Kemudian, sebanyak 47 persen memperkirakan dalam tiga bulan ke depan kondisi lingkungan bisnis akan tetap dan tidak berubah. Bahkan, 46 persen ahli justru memperkirakan kondisi akan memburuk.

"Rata-rata respons tercatat -0,49, lebih tinggi dari survei sebelumnya -0,28. Hal ini menunjukkan kekhawatiran para ahli terus menumpuk," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(fln/ins) Add as a preferred
source on Google