Israel Serang Ladang Gas Terbesar Iran, Peringatan Trump Dicuekin

CNN Indonesia
Jumat, 20 Mar 2026 14:30 WIB
Israel kembali melancarkan gelombang serangan baru ke Iran di tengah ketegangan dengan AS terkait serangan terhadap fasilitas energi pada Jumat (20/3).
Israel kembali melancarkan gelombang serangan baru ke Iran di tengah ketegangan dengan AS terkait serangan terhadap fasilitas energi pada Jumat (20/3). (AFP/BEHROUZ MEHRI).
Jakarta, CNN Indonesia --

Israel kembali melancarkan gelombang serangan baru ke South Pars, Iran di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) terkait serangan terhadap fasilitas energi pada Jumat (20/3).

Militer Israel menyatakan serangan terbaru menyasar sejumlah target di Teheran, ibu kota Iran, meski tidak merinci lokasi spesifik yang dihantam.

"IDF baru saja memulai gelombang serangan terhadap infrastruktur rezim Iran di jantung Teheran," ujar juru bicara militer Israel seperti dilansir Reuters.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan ini terjadi hanya sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Israel tidak mengulangi serangan terhadap infrastruktur energi, khususnya ladang gas South Pars.

"Saya bilang kepadanya, 'jangan lakukan itu', dan dia tidak akan melakukannya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Namun, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya diindahkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan serangan ke South Pars dilakukan secara mandiri tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada Washington.

Serangan terhadap ladang gas terbesar Iran itu menjadi titik penting dalam konflik, karena untuk pertama kalinya infrastruktur energi utama Iran menjadi target langsung. Langkah ini meningkatkan risiko gangguan besar terhadap pasokan energi global.

Trump bahkan kembali mengeluarkan peringatan keras melalui media sosial, Truth dengan menyatakan tidak akan ada lagi serangan terhadap South Pars kecuali Iran menyerang Qatar.

Ia juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat menghancurkan fasilitas tersebut jika konflik semakin meluas.

Serangan Meluas ke Negara Teluk

Eskalasi konflik juga merembet ke kawasan Teluk. Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab melaporkan serangan rudal pada Jumat dini hari, menyusul serangan balasan Iran dalam beberapa hari terakhir.

Sebelumnya, Iran membalas serangan Israel ke South Pars dengan menghantam fasilitas gas alam cair (LNG) Ras Laffan di Qatar. Fasilitas tersebut memproses sekitar seperlima pasokan LNG dunia.

Serangan itu menyebabkan kerusakan besar yang diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.

Selain itu, pelabuhan utama Arab Saudi di Laut Merah juga dilaporkan menjadi sasaran serangan, meski sebelumnya digunakan sebagai jalur alternatif ekspor untuk menghindari penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Ancaman Krisis Energi Global

Serangan terhadap fasilitas energi di kawasan ini semakin memicu kekhawatiran akan krisis energi global.

Harga energi sempat melonjak tajam pada Kamis (19/3) kemarin, sebelum sedikit mereda pada Jumat setelah sejumlah negara Eropa dan Jepang menyatakan kesiapan membantu mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Selat tersebut merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Sejumlah negara seperti Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang menyatakan siap berkontribusi menjaga keamanan jalur tersebut, serta mengambil langkah untuk menstabilkan pasar energi, termasuk meningkatkan produksi.

Namun hingga kini belum ada langkah konkret, Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan keterlibatan militer baru akan dipertimbangkan setelah konflik mereda. Konflik yang berlangsung sejak 28 Februari itu telah menewaskan ribuan orang, meluas ke negara-negara tetangga, serta mengguncang pasar energi dunia.

[Gambas:Video CNN]

(anm/sfr) Add as a preferred
source on Google