225 SPBU Kosong Imbas Perang Timur Tengah, Australia Ambil Langkah Ini
Sebanyak 225 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Australia dilaporkan kehabisan stok bahan bakar minyak (BBM) di tengah terganggunya pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah.
Kondisi ini mendorong pemerintah Australia mengambil langkah cepat dengan menjalin kerja sama pasokan energi dengan Singapura.
Menteri Energi Australia Chris Bowen mengungkapkan krisis pasokan terjadi di sejumlah wilayah utama. Rinciannya, 109 SPBU di Victoria kehabisan setidaknya satu jenis bensin, 47 SPBU di Queensland tidak memiliki diesel dan 32 lainnya kehabisan bensin reguler, serta 37 SPBU di New South Wales kehabisan bensin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Perdana Menteri New South Wales Chris Minns sebelumnya menyampaikan 105 SPBU di wilayahnya tidak memiliki stok diesel. Hal ini menambah tekanan terhadap distribusi energi di negara tersebut.
Bowen juga mengungkap adanya gangguan pasokan global, termasuk enam pengiriman minyak yang tidak sampai ke Australia. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci kapan pemerintah mengetahui hal tersebut.
Sebagai respons, pemerintah Australia menjalin kesepakatan dengan Singapura, salah satu pemasok utama minyak olahan. Perdana Menteri Anthony Albanese bersama Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menegaskan komitmen untuk menjaga kelancaran perdagangan energi.
Dalam pernyataan bersama, keduanya menegaskan kerja sama ini bertujuan menjaga arus pasokan energi tetap stabil.
"Kami akan mendukung kelancaran distribusi barang penting, termasuk minyak bumi seperti diesel dan gas alam cair antara kedua negara, serta saling memberi tahu dan berkonsultasi jika terjadi gangguan yang berdampak pada perdagangan energi," demikian pernyataan tersebut, melansir The Guardian.
Mereka juga mengajak negara mitra lainnya untuk menjaga rantai pasok energi global tetap terbuka.
"Kami menyerukan kepada mitra dagang lainnya untuk ikut memastikan rantai pasok energi global tetap terbuka demi keamanan dan kesejahteraan bersama," lanjut pernyataan itu.
Di tengah situasi ini, Bowen mengatakan pemerintah Australia belum akan mengambil langkah pembatasan bahan bakar dalam waktu dekat, meski sejumlah skenario darurat telah disiapkan.
"Langkah awal adalah mendorong pengendalian konsumsi publik melalui kampanye informasi dan imbauan penghematan bahan bakar. Setelah itu baru langkah lanjutan dipertimbangkan. Saya rasa kita masih jauh dari tahap tersebut," kata Bowen.
Pemerintah setempat juga mengisyaratkan akan memanfaatkan posisi Australia sebagai eksportir besar batu bara dan gas untuk menjaga kelangsungan impor minyak. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi menghadapi tekanan pasokan global.
Selain bahan bakar, kekhawatiran kini juga meluas ke pasokan pupuk dan bahan kimia lain yang bergantung pada energi impor. Sejumlah negara bahkan mulai memprioritaskan kebutuhan domestik, sehingga berpotensi menahan ekspor energi mereka.
(del/ins) Add
as a preferred source on Google