'Gerbang Air Mata' Terseret Perang Iran, Ini Efeknya ke Minyak Dunia
Selat Bab el-Mandeb kembali menjadi sorotan di tengah eskalasi konflik Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Jalur sempit yang dijuluki "Gerbang Air Mata" ini disebut terancam diblokade Iran melalui sekutunya, memicu kekhawatiran gangguan besar pada perdagangan global.
Secara geografis, Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Selat ini juga menjadi pemisah antara Yaman di sisi timur serta Eritrea dan Djibouti di sisi barat, sekaligus menghubungkan kawasan Asia dan Afrika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peran utamanya sangat vital karena menjadi jalur penghubung perdagangan antara Eropa dan Asia melalui Terusan Suez, tanpa harus memutar jauh melewati Benua Afrika. Karena itu, Bab el-Mandeb dikenal sebagai salah satu titik sempit (chokepoint) tersibuk dalam perdagangan energi dunia.
Dari sisi komoditas, selat ini dilalui berbagai pengiriman energi global. Minyak mentah dan bahan bakar dari kawasan Teluk menjadi komoditas utama yang melintas menuju Eropa melalui Laut Mediterania.
Selain itu, jalur ini juga digunakan untuk pengiriman minyak ke Asia, termasuk pasokan dari Rusia.
Melansir ABC News, data menunjukkan, sekitar 7,8 juta barel minyak mentah dan bahan bakar per hari melewati selat ini sepanjang 2023.
Secara keseluruhan, sekitar 12 persen perdagangan minyak dunia via laut dan sekitar 8 persen perdagangan gas alam cair (LNG) juga melintasi jalur Bab el-Mandeb, termasuk melalui jaringan Terusan Suez dan pipa SUMED.
Di luar energi, jalur ini juga dilalui kapal kargo yang mengangkut berbagai barang perdagangan global, menjadikannya salah satu urat nadi logistik internasional.
Namun, posisi strategis tersebut kini berada dalam ancaman. Pada Maret 2026, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) disebut mempertimbangkan meminta kelompok Houthi di Yaman untuk memblokade selat tersebut sebagai bagian dari tekanan terhadap AS dan Israel.
Ekonom transportasi ING Rico Luman memperingatkan dampak kebijakan di jalur ini bisa luas.
"Kebijakan di selat ini akan mengakibatkan kesuraman, baik di kawasan tersebut maupun perekonomian global," ujarnya.
Jika blokade terjadi, kapal tanker minyak dan kapal kargo terpaksa memutar jalur melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Rute alternatif ini dapat menambah waktu perjalanan hingga beberapa minggu bahkan lebih dari satu bulan.
Konsekuensinya, biaya logistik dan rantai pasok global akan meningkat tajam. Selain itu, pasokan energi berpotensi terganggu karena distribusi minyak menjadi lebih lambat dan mahal.
Peneliti Deakin University Ali Mamouri menilai ancaman terhadap jalur ini merupakan bagian dari strategi Iran dalam konflik.
"(Iran) mau mengontrol dan memoderasi eskalasi pergerakan ini. Mereka mengeluarkan kartu satu per satu, dan masih ada banyak lagi kartu yang akan mereka buka," ujarnya.
Dampak paling signifikan terlihat pada potensi gangguan pasokan minyak. Profesor rantai pasok Michigan State University Jason Miller memperkirakan hingga 5 juta barel minyak per hari bisa terhambat jika ketegangan berlanjut dan jalur ini ikut ditutup.
"Kalau ketegangan ini berlangsung 1-2 bulan lagi, dan Laut Merah juga ditutup, beginilah kira-kira situasi mengerikan yang akan kita hadapi," kata Miller.
Situasi ini menjadi semakin krusial karena sebelumnya Selat Hormuz-jalur utama lain-juga telah terganggu, dengan sekitar 16 hingga 20 juta barel minyak per hari terdampak.
Harga minyak dunia sendiri kembali melonjak ke level US$115 per barel Senin (30/3) ini. Lonjakan terjadi seiring meluasnya konflik di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$3,09 atau 2,74 persen menjadi US$115,66 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat US$2,92 atau 2,93 persen ke level US$102,56 per barel, setelah melonjak 5,5 persen pada sesi sebelumnya.
(lau/sfr) Add
as a preferred source on Google