Minyak Tembus US$115 per Barel, Apa Risikonya Bagi Ekonomi RI?
Fabby menambahkan, dampak ke masyarakat tidak selalu terjadi secara langsung, tetapi melalui efek berantai atau second round effect.
Kenaikan biaya logistik dan distribusi akan diteruskan ke harga barang konsumsi. Pada akhirnya, masyarakat tetap menanggung kenaikan biaya hidup meski harga BBM subsidi belum berubah.
Di sisi lain, pasar modal juga berpotensi tertekan akibat meningkatnya ketidakpastian global. Sentimen risk off membuat investor cenderung menarik dana dari aset berisiko seperti saham.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, sektor energi seperti batu bara justru berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga komoditas.
Lihat Juga : |
Langkah Pemerintah Jadi Penentu
Fabby menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis untuk meredam dampak.
Pertama, memperbaiki komunikasi publik agar masyarakat memahami potensi krisis dan tidak hanya diyakinkan soal ketersediaan pasokan.
Kedua, menekan konsumsi BBM untuk mengurangi ketergantungan impor, terutama dalam skenario terburuk jika pasokan global terganggu lebih parah.
Ketiga, mencari sumber pasokan alternatif di luar kawasan konflik.
Keempat, mulai membuka opsi penyesuaian harga energi agar beban APBN tidak sepenuhnya tersedot untuk subsidi.
Menurut Fabby, pemerintah harus menyiapkan paket stimulus ekonomi, termasuk bantuan sosial, untuk menahan perlambatan ekonomi.
"APBN akan dibutuhkan untuk memberikan stimulus ekonomi tadi dan bantalan untuk perlindungan sosial. (APBN) tidak bisa dihabiskan semuanya untuk subsidi BBM. Berarti konsekuensinya harga BBM harus disesuaikan. Nah ini yang perlu dilakukan pemerintah dalam waktu 2 minggu ke depan," tegasnya.
as a preferred source on Google