Harga Minyak Sentuh US$113 Imbas Ultimatum Trump Jadikan Iran 'Neraka'

CNN Indonesia
Selasa, 07 Apr 2026 10:16 WIB
Harga minyak dunia kembali naik ke US$110 per barel pada Selasa (7/4) setelah Trump memperkeras retorika terhadap Iran terkait pembukaan Selat Hormuz. (Foto: ATTA KENARE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia kembali naik pada Selasa (7/4) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperkeras retorika terhadap Iran terkait pembukaan Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 57 sen atau 0,5 persen menjadi US$110,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,26 atau 1,1 persen ke level US$113,67 per barel.

Kenaikan harga terjadi setelah Trump mengancam akan mengambil tindakan lebih keras jika Iran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi global.

Trump bahkan memperingatkan akan 'menghujani neraka' ke Teheran jika tenggat waktu yang ditetapkannya tidak dipenuhi.

Di sisi lain, Iran menolak proposal gencatan senjata yang disampaikan melalui mediator dan menegaskan penghentian perang secara permanen menjadi syarat utama, sebelum mereka membuka kembali Selat Hormuz.

Sejak perang Iran melawan agresi AS-Israel pecah pada 28 Februari lalu, Teheran secara efektif membatasi akses ke Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Analis pasar KCM Trade, Tim Waterer mengatakan dinamika politik kini berperan besar dalam pergerakan harga minyak.

"Pergerakan harga saat ini tidak hanya ditentukan fundamental, tetapi juga tenggat waktu ultimatum Trump," ujarnya.

Ia menambahkan potensi tercapainya kesepakatan gencatan senjata bisa menekan harga. Namun, kekhawatiran terhadap pasokan akibat gangguan di Selat Hormuz masih menjadi faktor utama yang menopang harga tetap tinggi.

Di tengah ketegangan tersebut, pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan sempat menahan dua kapal tanker gas alam cair milik Qatar tanpa penjelasan. Data pelayaran juga menunjukkan lalu lintas kapal di kawasan itu masih terbatas.

Dewan Keamanan PBB dijadwalkan melakukan pemungutan suara terkait resolusi perlindungan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, rancangan resolusi itu dilaporkan melemah setelah mendapat penolakan dari China terkait penggunaan kekuatan.

Konflik di kawasan Teluk juga terus berlanjut. Ledakan dilaporkan terjadi di Damaskus, Suriah, akibat intersepsi rudal Iran oleh Israel. Sementara itu, Arab Saudi mengaku berhasil mencegat tujuh rudal balistik yang mengarah ke wilayah timurnya.

Tekanan terhadap pasokan energi global juga diperparah oleh gangguan di Rusia setelah terminal ekspor minyak di Laut Hitam diserang drone Ukraina.

Di tengah situasi tersebut, perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, menaikkan harga jual resmi minyak Arab Light ke Asia untuk pengiriman Mei dengan premi mencapai US$19,50 per barel-tertinggi sepanjang sejarah.

Kelompok produsen minyak OPEC+ sebelumnya juga sepakat meningkatkan produksi sebesar 206 ribu barel per hari pada Mei. Namun, kenaikan ini diperkirakan tidak signifikan karena sejumlah negara anggota kesulitan meningkatkan output di tengah gangguan distribusi.

(lau/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK