Usulan DPR Beli LPG 3 Kg Pakai Sidik Jari

CNN Indonesia
Rabu, 08 Apr 2026 06:37 WIB
Usulan beli LPG 3 kg pakai sidik jari muncul lantaran Ketua Banggar DPR Said Abdullah menilai itu cara terampuh mencegah kebocoran gas subsidi ke orang kaya. (Foto: CNN Indonesia/Farid)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Anggaran (Banggar) DPR RI mengusulkan pemerintah untuk membuat aturan agar pembelian LPG 3 kilogram (kg) menggunakan sidik jari atau retina mata. Tujuannya agar penyaluran subsidi gas melon tepat sasaran.

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah mengatakan cara tersebut paling ampuh untuk mencegah kebocoran gas subsidi ke orang kaya. Sebab, tak bisa dipindah tangankan.

"Caranya bukan sekadar semata-mata pemerintah punya data sentral, tapi juga lakukanlah berulang kali saya bolak-balik (usul) dengan sidik jari atau retina mata bagi orang yang berhak untuk mendapatkan tabung LPG 3 kg," kata Said Abdullah di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (6/4) dikutip Detik News.

Usulan itu muncul saat ia menjawab soal adanya rencana mengurangi subsidi BBM lantaran dianggap membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ketua DPP PDIP ini tak setuju dengan gagasan tersebut.

"Kalau subsidi BBM dikurangi, kami nggak setuju. Yang diperlukan justru adalah subsidi LPG 3 kg itu harus tepat sasaran, targeted," ujar Said.

Menurutnya, penerima subsidi 3 kg sebenarnya lebih kecil dari pagu yang dianggarkan saat ini. Angka orang yang berhak menikmati gas melon hanya 5,4 juta orang jika benar-benar tepat sasaran.

"Karena hitungan kami dari 8,6 juta, kalau mau tepat sasaran, targeted, tidak sia-sia menghambur-hamburkan anggaran, LPG 3 kilo, tabung 3 kg itu hanya 5,4 juta. Cukup, dari 8,6 yang ada di pagu," imbuhnya.

Said menyebut kenaikan harga minyak dunia berdampak ke segala aspek, bukan hanya BBM. Ia berharap tak ada pihak yang mengotak-atik subsidi BBM bagi rakyat.

"Kalau soal beban-membebani dengan kenaikan harga minyak energi internasional, apa sih yang tidak terbebani? Kan iya. Kenapa kita mengotak-atik subsidi? Kenapa kita tidak bicara terhadap harga nonsubsidi yang sampai sekarang belum naik?" ujarnya.

"Kenapa yang untuk orang miskin yang diotak-atik? Jangan dong. Kalau mau diotak-atik yang sudah dijual di pasar yang nggak harga keekonomian, itu lebih make sense," pungkasnya.

(ldy/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK