Apa Itu Nafta, Bahan Baku Plastik yang Kini Langka?
Kelangkaan bahan baku plastik belakangan ini tak lepas dari terganggunya pasokan nafta, komponen utama dalam industri petrokimia. Kondisi tersebut sekaligus memicu kenaikan harga plastik di Tanah Air.
Gangguan ini dipicu konflik global, terutama di Timur Tengah, yang selama ini menjadi pemasok utama bahan tersebut. Dampaknya mulai terasa di dalam negeri, di mana harga plastik melonjak tajam di berbagai daerah.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut ketergantungan Indonesia terhadap impor nafta cukup tinggi, sehingga ketika pasokan terganggu, dampaknya langsung menjalar ke industri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi ini bagian dari dampak dari perang ya. Kita itu bahan baku plastik salah satunya adalah nafta. Nafta itu 60 persen kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah," ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Staf Presiden, Jakarta Pusat, Rabu (1/4).
Lonjakan harga plastik pun terjadi di tingkat pedagang. Di sejumlah pasar, harga plastik kantong naik dari sekitar Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu per pak. Sedotan plastik ikut naik dari Rp8.000 menjadi Rp10 ribu, sementara plastik kemasan bahkan melonjak dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu.
Dalam beberapa kasus, pelaku usaha menyebut kenaikan harga bahan plastik bisa mencapai 30 persen hingga 60 persen, bahkan ada yang tembus hingga dua kali lipat karena stok yang terbatas.
Kondisi ini membuat biaya produksi berbagai sektor ikut terdorong naik, terutama industri makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik.
Pemerintah pun mulai mencari alternatif pasokan dari negara lain untuk menjaga produksi tetap berjalan, sekaligus menahan gejolak harga di pasar.
Lantas apa itu NAFTA?
Secara sederhana, nafta adalah cairan hasil olahan minyak bumi yang menjadi bahan dasar untuk banyak produk, terutama plastik. Nafta berasal dari proses penyulingan minyak mentah, lalu diolah lagi menjadi bahan kimia penting yang dipakai industri.
Di dunia industri, nafta bisa dibilang sebagai bahan awal yang sangat krusial. Dari nafta inilah dihasilkan zat seperti etilena dan propilena, yang kemudian diolah lagi menjadi plastik, karet sintetis, hingga berbagai produk kimia lainnya yang digunakan sehari-hari.
Sederhananya, nafta itu seperti bahan utama di dapur industri. Tanpa nafta, pabrik tidak bisa memproduksi bahan kimia yang menjadi dasar plastik.
Ketika pasokan nafta terganggu, efeknya langsung merembet luas. Bukan hanya industri besar, tapi juga usaha kecil seperti pedagang makanan dan minuman yang menggunakan plastik untuk kemasan.
Selain untuk plastik, nafta juga digunakan sebagai bahan campuran bensin, pelarut untuk cat dan tinta, hingga bahan baku berbagai produk industri lainnya.
Nafta memiliki sifat yang membuatnya cocok digunakan di banyak industri. Cairan ini mudah menguap, mudah terbakar, dan memiliki bau khas seperti bensin. Secara kimia, nafta terdiri dari campuran hidrokarbon dengan jumlah atom karbon sekitar lima sampai 12.
Titik didihnya juga bervariasi, mulai dari sekitar 30 hingga 200 derajat Celsius, tergantung jenisnya. Sifat-sifat ini membuat nafta fleksibel digunakan untuk berbagai kebutuhan industri, mulai dari bahan bakar hingga bahan kimia.
Dalam praktiknya, nafta dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan karakteristiknya.
Nafta ringan biasanya digunakan untuk bahan baku petrokimia seperti plastik dan bahan bakar. Sementara itu, nafta berat lebih banyak dipakai untuk pelumas, aspal, atau bahan industri lainnya.
Ada juga nafta aromatik yang digunakan untuk pelarut industri, cat, hingga bahan kimia tertentu. Masing-masing jenis punya fungsi berbeda, tapi semuanya tetap berawal dari bahan yang sama, yaitu minyak bumi.
Kelangkaan nafta saat ini terjadi karena pasokannya sangat bergantung pada impor, terutama dari kawasan Timur Tengah. Ketika terjadi konflik atau gangguan distribusi di wilayah tersebut, pasokan global langsung terganggu.
Tak hanya Indonesia, sejumlah negara lain juga mengalami kondisi serupa. Beberapa produsen bahkan terpaksa mengurangi produksi, yang akhirnya membuat pasokan semakin terbatas di pasar global. Akibatnya, harga bahan baku naik dan berdampak ke berbagai sektor.
as a preferred source on Google