Mengapa IHSG Terus Bertenaga saat Rupiah Loyo?
Meski demikian, Ibrahim menambahkan intervensi Bank Indonesia (BI) dinilai mampu menahan pelemahan agar tidak semakin dalam.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menjelaskan IHSG dan rupiah digerakkan oleh dua arus yang berbeda jika dilihat berdasarkan dari struktur pasarnya.
Untuk pasar saham lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi earnings atau laba perusahaan dan likuiditas domestik, sementara nilai tukar rupiah sangat sensitif terhadap arus modal global dan dinamika dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasar saham lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi earnings dan likuiditas domestik, sementara nilai tukar sangat sensitif terhadap arus modal global dan dinamika dolar AS," ujar Ronny.
Ia menilai kenaikan IHSG dalam beberapa waktu terakhir kemungkinan besar ditopang oleh akumulasi investor domestik, terutama institusi dan dana pensiun yang melihat valuasi saham kita relatif murah (undervalued) setelah koreksi sebelumnya.
Sementara itu, pelemahan rupiah lebih mencerminkan tekanan eksternal seperti penguatan dolar AS, ekspektasi suku bunga tinggi di negara maju, serta capital outflow dari emerging markets atau negara yang ekonominya sedang tumbuh.
"Jadi ini bukan kontradiksi, semacam decoupling (pergerakan yang tidak sejalan) jangka pendek," terangnya.
Lebih lanjut, Ronny menyampaikan prospek investasi Indonesia masih menarik, dengan catatan daya tarik tersebut lebih selektif, bukan menyebar luas ke banyak sektor seperti beberapa tahun lalu.
Investor masih melihat fundamental Indonesia, seperti pertumbuhan ekonomi stabil, inflasi relatif terkendali, dan sektor komoditas yang resilien, sebagai jangkar yang bikin investor percaya.
Namun, pelemahan rupiah tetap menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan. Ia menambahkan bagi investor tertentu, terutama eksportir atau perusahaan berbasis komoditas, rupiah yang lemah justru meningkatkan margin.
"Ini yang menjelaskan kenapa IHSG masih bisa naik meskipun rupiah tertekan, komposisi indeks kita memang overweight di sektor-sektor yang 'diuntungkan' oleh depresiasi," kata Ronny.
Kemudian, Ronny mengatakan optimisme investor saat ini bersumber berasal dari faktor teknikal dan struktural. Pertama, secara teknikal, banyak saham blue chip sudah berada di level valuasi atraktif atau price to earnings ratio di bawah rata-rata historis.
Kedua, secara struktural, terdapat ekspektasi keberlanjutan hilirisasi, lalu belanja pemerintah, dan stabilitas politik.
"Namun, optimisme ini sifatnya fragile optimism, sangat tergantung pada likuiditas global. Begitu yield US Treasury naik atau risk-off sentiment muncul, arus dana bisa berbalik cepat," ungkapnya.
Ronny menjelaskan soal level rupiah yang mengkhawatirkan, pasar biasanya tidak hanya melihat angka absolut, tetapi kecepatan depresiasi dan volatilitasnya.
Namun, secara psikologis, jika rupiah menembus dan bertahan lama di atas level round number baru, justru bisa memicu panic re-pricing atau pasar tiba-tiba koreksi cepat karena panik.
Dengan demikian, menurut Ronny investor asing cenderung melakukan hedging agresif atau bahkan exit, dan investor domestik mulai defensif di titik tersebut.
"Jadi bukan hanya soal level, tapi apakah pelemahan ini orderly atau disorderly. Kalau masih gradual dan didukung oleh fundamental, pasar bisa mencerna. Tapi kalau 'abrupt' dan tanpa anchor kebijakan yang jelas, justru berbahaya," ujarnya.
"Intinya, yang terjadi sekarang bukan anomali, tapi sinyal bahwa pasar Indonesia sedang berada dalam fase transisi dimana saham masih ditopang optimisme domestik, sementara rupiah menjadi "korban" dari realitas global," imbuhnya.
(ins)Awal pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.500 pada perdagangan Senin (13/4) sore. Indeks saham menguat 41,69 poin atau naik 0,56 persen dari perdagangan sebelumnya.
Mengutip RTI Infokom, investor melakukan transaksi sebesar Rp20,44 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 42,50 miliar saham. Adapun sebanyak 397 saham menguat, 264 terkoreksi, dan 156 stagnan.
Tren kenaikan terus berlanjut pada perdagangan Selasa (14/4) sore, saat IHSG ditutup di level 7.675 menguat 175,76 poin atau naik 2,34 persen dari perdagangan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, investor melakukan transaksi sebesar Rp24,75 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan 52,99 miliar saham. Adapun sebanyak 548 saham menguat, 151 terkoreksi, dan 119 stagnan.
Namun, IHSG justru merah di level 7.623 pada penutupan Rabu (15/4) sore, turun 52,37 poin atau minus 0,68 persen dari perdagangan sebelumnya. Meski begitu, indeks saham masih berada di level yang lebih baik dibandingkan pada penutupan perdagangan Senin (13/4).
Investor melakukan transaksi sebesar Rp22,59 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 51,41 miliar saham. Pada penutupan kali ini, 380 saham menguat, 292 merah, dan 149 stagnan.
Sementara itu, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung melemah sejak akhir pekan lalu dan terus menyentuh angka terlemah baru sepanjang sejarah sejak krisis moneter 1998.
Mata Uang Garuda pertama kali sentuh level terlemah sepanjang sejarah pada Jumat (10/4) sore di level Rp17.104 per dolar AS. Angka tersebut melemah 14 poin atau 0,08 persen dari perdagangan sebelumnya.
Pelemahan berlanjut, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.105 per dolar AS pada Senin (13/4) sore, melemah 1 poin atau 0,01 persen dari perdagangan sebelumnya. Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp17.122 per dolar AS.
Kemudian, pada Selasa (14/4) sore, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.127 per dolar AS, melemah 22 poin atau 0,13 persen dari perdagangan sebelumnya. Adapun kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp17.135 per dolar AS.
Lihat Juga : |
Pelemahan rupiah berlanjut dan semakin dalam, yakni Rp17.143 per dolar AS pada Rabu (15/4) sore. Rupiah melemah 16 poin atau 0,09 persen dari perdagangan sebelumnya. Berdasarkan kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp17.141 per dolar AS.
Lantas, bagaimana IHSG bisa terus bertenaga saat rupiah terus loyo?
Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuaibi menilai penguatan IHSG di tengah tekanan nilai tukar rupiah ditopang sentimen positif dari global hingga kinerja sektor komoditas domestik.
Ibrahim menyampaikan pertemuan pemerintah Indonesia dengan pengusaha di Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu katalis utama yang mendorong optimisme investor.
"Jadi pemerintah akan memberikan informasi bahwa investasi di Indonesia itu aman dan diamini oleh pengusaha-pengusaha dari Amerika. Jadi informasi ini sebenarnya membuat apa, membuat pasar kembali bergairah," ujar Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/4).
Ia mengatakan peningkatan pendapatan ekspor komoditas juga menjadi penopang penguatan pasar saham. Penguatan indeks dolar dinilai turut menguntungkan perusahaan-perusahaan berbasis komoditas seperti tambang, energi, dan agrikultur.
"Nah, penguatan indeks dolar ini berdampak positif juga terhadap perusahaan-perusahaan komoditas tambang, baik tambang, energi, maupun agrikultur di Indonesia. Sehingga ini salah satu yang menopang kenaikan IHSG," terangnya.
Kemudian dari sisi global, Ibrahim mengungkapkan pelaku pasar juga menanti perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya potensi pertemuan lanjutan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait gencatan senjata.
"Kemarin itu kan yang tidak mendapatkan satu persetujuan itu adalah tentang pengayaan uranium. Nah, ini di hari Sabtu (atau) Minggu akan bertemu kembali untuk membahas masalah pengayaan uranium. Kalau seandainya ini deal, kemungkinan besar akan terjadi gencatan senjata dua minggu antara AS, kemudian Israel, Iran, dan Lebanon," kata Ibrahim.
Selain itu, faktor lainnya adalah soal revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh IMF dari semula 5,1 persen menjadi 5 persen dinilai masih mencerminkan fundamental ekonomi yang solid.
"Artinya apa? pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di angka 5 persen, artinya masih cukup baguslah untuk para pengusaha-pengusaha asing yang menginvestasikan dana di Indonesia. Itu yang membuat IHSG kembali mengalami kenaikan," ujarnya.
Di sisi lain, Ibrahim menilai pelemahan rupiah sebagai hal wajar di tengah kondisi global saat ini. Ia menyebut tekanan berasal dari faktor geopolitik, tingginya harga minyak, serta meningkatnya kebutuhan dolar untuk impor.
"Di mana-mana kalau IHSG naik, ya pasti rupiah melemah, itu sudah trennya ya. Kalau pelemahan mata uang rupiah karena masalah geopolitik, kemudian harga minyak yang masih tinggi. Berarti apa? kebutuhan dolar kita kan cukup besar," ungkap Ibrahim.
Mengapa IHSG Terus Bertenaga saat Rupiah Loyo?
Ini sinyal bahwa pasar Indonesia berada di fase transisi saat saham masih ditopang optimisme domestik, sementara rupiah menjadi "korban" realitas global. (ANTARA/Aprillio Akbar).
Meski demikian, Ibrahim menambahkan intervensi Bank Indonesia (BI) dinilai mampu menahan pelemahan agar tidak semakin dalam.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menjelaskan IHSG dan rupiah digerakkan oleh dua arus yang berbeda jika dilihat berdasarkan dari struktur pasarnya.
Untuk pasar saham lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi earnings atau laba perusahaan dan likuiditas domestik, sementara nilai tukar rupiah sangat sensitif terhadap arus modal global dan dinamika dolar AS.
"Pasar saham lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi earnings dan likuiditas domestik, sementara nilai tukar sangat sensitif terhadap arus modal global dan dinamika dolar AS," ujar Ronny.
Ia menilai kenaikan IHSG dalam beberapa waktu terakhir kemungkinan besar ditopang oleh akumulasi investor domestik, terutama institusi dan dana pensiun yang melihat valuasi saham kita relatif murah (undervalued) setelah koreksi sebelumnya.
Sementara itu, pelemahan rupiah lebih mencerminkan tekanan eksternal seperti penguatan dolar AS, ekspektasi suku bunga tinggi di negara maju, serta capital outflow dari emerging markets atau negara yang ekonominya sedang tumbuh.
"Jadi ini bukan kontradiksi, semacam decoupling (pergerakan yang tidak sejalan) jangka pendek," terangnya.
Lebih lanjut, Ronny menyampaikan prospek investasi Indonesia masih menarik, dengan catatan daya tarik tersebut lebih selektif, bukan menyebar luas ke banyak sektor seperti beberapa tahun lalu.
Investor masih melihat fundamental Indonesia, seperti pertumbuhan ekonomi stabil, inflasi relatif terkendali, dan sektor komoditas yang resilien, sebagai jangkar yang bikin investor percaya.
Namun, pelemahan rupiah tetap menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan. Ia menambahkan bagi investor tertentu, terutama eksportir atau perusahaan berbasis komoditas, rupiah yang lemah justru meningkatkan margin.
"Ini yang menjelaskan kenapa IHSG masih bisa naik meskipun rupiah tertekan, komposisi indeks kita memang overweight di sektor-sektor yang 'diuntungkan' oleh depresiasi," kata Ronny.
Kemudian, Ronny mengatakan optimisme investor saat ini bersumber berasal dari faktor teknikal dan struktural. Pertama, secara teknikal, banyak saham blue chip sudah berada di level valuasi atraktif atau price to earnings ratio di bawah rata-rata historis.
Kedua, secara struktural, terdapat ekspektasi keberlanjutan hilirisasi, lalu belanja pemerintah, dan stabilitas politik.
"Namun, optimisme ini sifatnya fragile optimism, sangat tergantung pada likuiditas global. Begitu yield US Treasury naik atau risk-off sentiment muncul, arus dana bisa berbalik cepat," ungkapnya.
Ronny menjelaskan soal level rupiah yang mengkhawatirkan, pasar biasanya tidak hanya melihat angka absolut, tetapi kecepatan depresiasi dan volatilitasnya.
Namun, secara psikologis, jika rupiah menembus dan bertahan lama di atas level round number baru, justru bisa memicu panic re-pricing atau pasar tiba-tiba koreksi cepat karena panik.
Dengan demikian, menurut Ronny investor asing cenderung melakukan hedging agresif atau bahkan exit, dan investor domestik mulai defensif di titik tersebut.
"Jadi bukan hanya soal level, tapi apakah pelemahan ini orderly atau disorderly. Kalau masih gradual dan didukung oleh fundamental, pasar bisa mencerna. Tapi kalau 'abrupt' dan tanpa anchor kebijakan yang jelas, justru berbahaya," ujarnya.
"Intinya, yang terjadi sekarang bukan anomali, tapi sinyal bahwa pasar Indonesia sedang berada dalam fase transisi dimana saham masih ditopang optimisme domestik, sementara rupiah menjadi "korban" dari realitas global," imbuhnya.