ANALISIS

Mengapa IHSG Terus Bertenaga saat Rupiah Loyo?

Muhammad Falah Nafis | CNN Indonesia
Kamis, 16 Apr 2026 07:55 WIB
Ini sinyal bahwa pasar Indonesia berada di fase transisi saat saham masih ditopang optimisme domestik, sementara rupiah menjadi "korban" realitas global.
Ini sinyal bahwa pasar Indonesia berada di fase transisi saat saham masih ditopang optimisme domestik, sementara rupiah menjadi "korban" realitas global. (ANTARA/Aprillio Akbar).

Meski demikian, Ibrahim menambahkan intervensi Bank Indonesia (BI) dinilai mampu menahan pelemahan agar tidak semakin dalam.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menjelaskan IHSG dan rupiah digerakkan oleh dua arus yang berbeda jika dilihat berdasarkan dari struktur pasarnya.

Untuk pasar saham lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi earnings atau laba perusahaan dan likuiditas domestik, sementara nilai tukar rupiah sangat sensitif terhadap arus modal global dan dinamika dolar AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pasar saham lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi earnings dan likuiditas domestik, sementara nilai tukar sangat sensitif terhadap arus modal global dan dinamika dolar AS," ujar Ronny.

Ia menilai kenaikan IHSG dalam beberapa waktu terakhir kemungkinan besar ditopang oleh akumulasi investor domestik, terutama institusi dan dana pensiun yang melihat valuasi saham kita relatif murah (undervalued) setelah koreksi sebelumnya.

Sementara itu, pelemahan rupiah lebih mencerminkan tekanan eksternal seperti penguatan dolar AS, ekspektasi suku bunga tinggi di negara maju, serta capital outflow dari emerging markets atau negara yang ekonominya sedang tumbuh.

"Jadi ini bukan kontradiksi, semacam decoupling (pergerakan yang tidak sejalan) jangka pendek," terangnya.

Lebih lanjut, Ronny menyampaikan prospek investasi Indonesia masih menarik, dengan catatan daya tarik tersebut lebih selektif, bukan menyebar luas ke banyak sektor seperti beberapa tahun lalu.

Investor masih melihat fundamental Indonesia, seperti pertumbuhan ekonomi stabil, inflasi relatif terkendali, dan sektor komoditas yang resilien, sebagai jangkar yang bikin investor percaya.

Namun, pelemahan rupiah tetap menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan. Ia menambahkan bagi investor tertentu, terutama eksportir atau perusahaan berbasis komoditas, rupiah yang lemah justru meningkatkan margin.

"Ini yang menjelaskan kenapa IHSG masih bisa naik meskipun rupiah tertekan, komposisi indeks kita memang overweight di sektor-sektor yang 'diuntungkan' oleh depresiasi," kata Ronny.

Kemudian, Ronny mengatakan optimisme investor saat ini bersumber berasal dari faktor teknikal dan struktural. Pertama, secara teknikal, banyak saham blue chip sudah berada di level valuasi atraktif atau price to earnings ratio di bawah rata-rata historis.

Kedua, secara struktural, terdapat ekspektasi keberlanjutan hilirisasi, lalu belanja pemerintah, dan stabilitas politik.

"Namun, optimisme ini sifatnya fragile optimism, sangat tergantung pada likuiditas global. Begitu yield US Treasury naik atau risk-off sentiment muncul, arus dana bisa berbalik cepat," ungkapnya.

Ronny menjelaskan soal level rupiah yang mengkhawatirkan, pasar biasanya tidak hanya melihat angka absolut, tetapi kecepatan depresiasi dan volatilitasnya.

Namun, secara psikologis, jika rupiah menembus dan bertahan lama di atas level round number baru, justru bisa memicu panic re-pricing atau pasar tiba-tiba koreksi cepat karena panik.

Dengan demikian, menurut Ronny investor asing cenderung melakukan hedging agresif atau bahkan exit, dan investor domestik mulai defensif di titik tersebut.

"Jadi bukan hanya soal level, tapi apakah pelemahan ini orderly atau disorderly. Kalau masih gradual dan didukung oleh fundamental, pasar bisa mencerna. Tapi kalau 'abrupt' dan tanpa anchor kebijakan yang jelas, justru berbahaya," ujarnya.

"Intinya, yang terjadi sekarang bukan anomali, tapi sinyal bahwa pasar Indonesia sedang berada dalam fase transisi dimana saham masih ditopang optimisme domestik, sementara rupiah menjadi "korban" dari realitas global," imbuhnya.

(ins) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2