Mendag Bantah Minyak Goreng Langka di Pasaran: Banyak, Coba Cek

CNN Indonesia
Jumat, 17 Apr 2026 03:45 WIB
Mendag Budi Santoso membantah anggapan minyak goreng langka di pasar meski belakangan masyarakat mengeluhkan sulitnya mendapatkan Minyakita. (Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membantah anggapan minyak goreng langka di pasar meski belakangan masyarakat mengeluhkan sulitnya mendapatkan Minyakita.

Ia menegaskan pasokan minyak goreng secara umum masih tersedia, hanya distribusi Minyakita yang terbatas karena berasal dari skema khusus pemerintah.

"Minyak goreng itu banyak. Coba cek ya. Saya kemarin ke ritel modern, minyak goreng banyak. Jadi enggak ada namanya minyak goreng itu langka," ujarnya di Jakarta International Expo, Jakarta Pusat, Kamis (16/4).

Menurut Budi, persepsi kelangkaan muncul karena masyarakat menjadikan Minyakita sebagai acuan utama. Padahal, di pasar tersedia berbagai jenis minyak goreng lain, mulai dari merek alternatif hingga produk premium.

"Jadi jangan menyampaikan kalau minyak kita enggak ada. Bilangnya, narasinya, minyak goreng enggak ada. Yang dilihat itu Minyakita. Minyakita itu kan minyak DMO, jumlahnya terbatas," katanya.

Ia menjelaskan Minyakita merupakan minyak goreng dari kewajiban pasar domestik (domestic market obligation/DMO) yang volumenya memang tidak besar karena bergantung pada pasokan ekspor. Kondisi ini membuat ketersediaannya tidak selalu merata di pasar.

Budi telah meminta produsen menghadirkan minyak goreng second brand setipe Minyakita, sebagai alternatif dengan harga yang lebih terjangkau untuk menjaga keseimbangan pasar.

"Ada minyak second brand. Kita minta produsen membuat minyak second brand. Ini pembandingnya Minyakita. Kemudian juga ada minyak premium," ujarnya.

Terkait harga, ia mengakui terjadi kenaikan terbatas yang dipicu faktor biaya produksi, terutama kemasan plastik.

"Ya ada sedikit juga naik. Karena kan imbas dari, kan mereka kemasannya plastik semua. Tapi enggak ada namanya kelangkaan," ucapnya.

Di sisi lain, keluhan terkait Minyakita memang banyak muncul di lapangan. Sejumlah pedagang di Jakarta mengaku sudah berbulan-bulan tidak mendapatkan pasokan.

Di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, seorang pedagang bernama Elan mengaku tidak lagi menjual Minyakita sejak tiga bulan terakhir karena stok dari pemasok kosong. Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Mampang Prapatan, di mana pedagang terakhir kali menjual Minyakita pada Januari lalu.

Keterbatasan pasokan ini membuat pedagang beralih menjual minyak goreng kemasan premium dan curah dengan harga yang lebih tinggi.

Harga minyak goreng kemasan yang sebelumnya sekitar Rp20 ribu per liter kini naik menjadi Rp22 ribu hingga Rp23 ribu, sementara minyak curah naik dari Rp18 ribu menjadi sekitar Rp20 ribu hingga Rp21 ribu per kilogram.

Sejumlah pedagang juga mengeluhkan skema distribusi yang mengharuskan mereka membeli produk lain agar bisa mendapatkan Minyakita, sehingga menambah beban biaya usaha.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah melalui BUMN pangan tengah mendorong peningkatan distribusi Minyakita. Skema penyaluran saat ini mengacu pada ketentuan minimal 30-35 persen dari DMO yang didistribusikan melalui BUMN seperti Perum Bulog, ID Food, dan Agrinas Palma.

Lonjakan permintaan Minyakita juga dipicu peralihan konsumen dari minyak curah ke minyak kemasan seiring kenaikan harga bahan baku plastik yang membuat biaya produksi meningkat.

(del/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK